
Denpasar-hariandialog.co.id – Penjabat (Pj) Gubernur Bali, S.M. Mahendra Jaya, mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terkait penanganan sampah kiriman yang belakangan terlihat menumpuk di kawasan Pantai Kuta dan sekitarnya, “Saya sangat mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terkait permasalahan sampah di Bali. Terima kasih atas kedatangan langsung para Bapak dan Ibu Menteri,” kata Pj. Gubernur Mahendra Jaya saat aksi bersih-bersih di Pantai Kuta, Badung, Bali, Sabtu (4/1).

Aksi bersih bersih pantai di Kuta ini, tidak tanggung tanggung dihadiri 4 Menteri diantaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Menteri LH RI, Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, serta Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Pj Gubernur mengungkapkan, peristiwa menumpuknya sampah di Pantai Kuta dan sekitarnya menjadi fenomena musiman karena mana arus laut melewati kawasan pantai Kuta membawa sampah dari luar Bali, terutama dari Pulau Jawa,” Kami terus mendorong upaya penanganan sampah melibatkan masyarakat,” katanya.
Ia menyebut, sejatinya Bali sudah memiliki peraturan terkait penanganan sampah, yakni penanganan sampah berbasis sumber, “Kami mendorong penyelesaian sampah di sumbernya, sampah diolah skala rumah tangga hingga tingkat desa. Beberapa desa sudah berhasil melakukannys kemudian memberi percontoh kepada desa lainnya di Bali,” tutur Mahendra Jaya.
Kehadiran para menteri dalam aksi bersih-bersih sampah di Pantai Kuta, kata Pj Gubernur, semakin memberikan dorongan dan semangat bagi pemerintah daerah bersama masyarakat menyelesaikan permasalahan sampah di Pulau Dewata menyeluruh,”Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas dukungannya terus mendorong upaya penanganan sampah.Terima kasih kepada Bapak dan Ibu Menteri telah peduli terhadap kelestarian dan keindahan alam Bali,” ucap Pj Gubernur Bali.
Mahendra menjelaskan, masalah sampah kiriman di Bali menjadi perhatian bersama pemerintah pusat karena selain berpotensi mengganggu aktivitas pariwisata yang berdampak langsung lingkungan hidup dan pangan, “Bayangkan kalau dibiarkan, bisa-bisa lebih banyak sampah laut dari pada ikannya. ini mengganggu ketersediaan bahan perikanan kita nantinya,” ujar Menteri Zulkifli.
Menko Pangan mengatakan pentingnya kerja sama dan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga komponen masyarakat bersama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.”Kita ini negara kepulauan sangat besar kuncinya adalah kita harus bekerja sama menjaga lingkungan kita,” tukasnya.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menjelaskan sampah kiriman kawasan Pantai Kuta sekitarnya terjadi saat musim angin barat berlangsung periode Oktober-Maret setiap tahunnya. “Jumlah sampah kiriman pesisir Bali 2024-2025 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan 2020-2021 mencapai sekitar 6.000 ton, sedangkan pada 2023 sekitar 2.900 ton,” urainya.
Oleh se bab itu, tegas Menteri LH RI, penting berkolaborasi menangani sampah ‘musiman’ di pantai-pantai Bali konkretnya kerjasama berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat, “Apalagi Bali memiliki reputasi pariwisata internasional perlu edukasi lebih masif kepada masyarakat bersama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” tukas Menteri Hanif.
Sebanyak 2.115 peserta terlibat dalam bersih bersih pantai dari kalangan pemerintah daerah, TNI, Polri, pelajar, mahasiswa Poltekpar Bali, komunitas, tenaga kebersihan, Satgas Kuta, desa adat, LSM, serta media massa hingga pegiat media sosial terlibat aksi bersih-bersih meskipun sempat diguyur hujan.Kegiatan dirangkai penandatanganan MoU antara Kementerian LHK dan Kementerian Pendidikan Dasar RI untuk upaya edukasi penanganan sampah dan kelestarian lingkungan sejak usia sekolah.
Kegiatan juga dihadiri Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, Pangdam IX/Udayana, Polda Bali, Korem 163/Wirasatya, hingga perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. ( NL )
