Jakarta, hariandialog.co.id.- – Alzheimer Indonesia (ALZI) dan
Alzheimer’s Disease International (ADI) mengadakan kampanye global
untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang jatuh pada 21 September
2026 dengan satu ajakan sederhana: jika Anda khawatir dengan daya
ingat Anda atau orang terdekat, Anda dapat bicara dengan Alzheimer
Indonesia untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut.
Hal ini menjadi penting, karena menurut WHO, jumlah orang
yang hidup dengan demensia di dunia diperkirakan naik menjadi 78 juta
pada akhir dekade ini dan hampir berlipat dua menjadi 139 juta pada
pertengahan abad1
Meski begitu, masih banyak yang menjalani hidup dengan
kondisi ini tanpa diagnosis formal. Angkanya diperkirakan mencapai 75
persen secara global dan setinggi 90 persen di
sejumlah negara berpenghasilan rendah dan menengah
“Sebagai neurolog, saya ingin menekankan bahwa demensia
bukan sekadar masalah lupa dan bukan bagian normal dari penuaan.
Demensia merupakan manifestasi dari perubahan atau penyakit pada otak,
dan pada beberapa jenis demensia, proses biologis di otak dapat mulai
berlangsung bertahun- tahun sebelum gejala menjadi jelas. Otak
memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mempertahankan fungsi melalui
apa yang kita kenal sebagai cognitive reserve.
Karena itu, ketika keluhan mulai muncul, kita sebaiknya
tidak menunggu sampai seseorang kehilangan kemandiriannya. Pemeriksaan
lebih awal memberi kesempatan untuk mengenali penyebab, menilai
kesehatan otak,
mengendalikan faktor risiko vaskular seperti hipertensi dan diabetes,
serta melakukan intervensi yang dapat membantu mempertahankan fungsi
otak selama mungkin,” ujar Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), MD,
PhD, Neurolog, Rektor Unika Atma Jaya
“Kita tidak harus menunggu sampai memori banyak yang
hilang untuk mulai menjaga otak. Semakin dini kita mengenali
perubahan, semakin banyak yang dapat kita lakukan,” tambahnya.
Sepanjang September, ALZI bergabung dalam kampanye kesadaran global di
Indonesia bertajuk “The Earlier You Know, The More You Can Do: A
Dementia Diagnosis Matters” dengan tagar DementiaDiagnosisMatters
AlzheimerDiagnosisMatters EarlyDiagnosisMatters.
PentingnyaDeteksiDiniDemensia. Kampanye ini mendorong
orang untuk berbicara lebih terbuka, mencari informasi, saran, dan
dukungan yang dapat mengarah pada diagnosis dini, serta mengenali
gejala awal demensia.
Demensia bukan bagian dari penuaan normal
Sejumlah survei menunjukkan empat dari lima orang dan dua
pertiga tenaga kesehatan masih keliru meyakini bahwa demensia3 atau
seringkali dianggap sebagai pikun, adalah bagian alami dari proses
penuaan. Kesalahpahaman tersebut, ditambah stigma terhadap pikun dan
sikap menutup diri karena malu, akan menunda diagnosis dan menutup
akses terhadap pengobatan serta dukungan yang dibutuhkan. Meski belum
ada obatnya, penelitian menunjukkan hingga 45 persen kasus dapat
ditunda atau dicegah dengan menangani faktor risiko seperti merokok,
tekanan darah tinggi, kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang
buruk, dan kesendirian (social isolation), tulis Imelda Theresia, PLT
Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia theresia@alzi.or.id .
(halim-01)
