
Majalengka, hariandialog.co.id – Puluhan orang tua siswa SD di wilayah dawuan Kecamatan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mengeluhkan kebijakan pembelajaran lima hari sekolah yang kini berdampak pada terhambatnya pendidikan agama anak-anak mereka di Madrasah Diniyah (MD) Awaliyah.
Kebijakan yang menyebabkan jam pulang anak molor hingga sore hari itu dinilai membuat anak-anak kelelahan dan tidak lagi mampu mengikuti kegiatan belajar agama di madrasah seperti sebelumnya.
“Pulang sekolah sudah hingga sore. Anak capek, makan sebentar, langsung tidur. Padahal kami sangat ingin anak tetap bisa mengaji dan belajar agama,” kata Siti, salah satu orang tua siswa, kepada Dialog, Minggu (14/7).
Senada dengan itu, sejumlah orang tua lain menyebutkan bahwa madrasah bukan sekadar pelengkap, tetapi kebutuhan pokok pendidikan karakter dan akhlak anak.
“Sekolah umum penting, tapi pendidikan agama juga tidak boleh hilang. Kalau anak-anak tidak sempat ke madrasah, siapa yang akan membentuk akhlaknya?” ujar Hen, warga setempat.
Pengelola MD Awaliyah setempat pun mengaku terpukul dengan kebijakan ini. Sejak sekolah lima hari diterapkan,hawatir jumlah santri merosot drastis. anak, mudah mudahan bisa bertahan masih rutin hadir.
“Kami sangat terbebani. Anak-anak tak lagi punya waktu. Sebagian guru juga mengeluh karena waktu mengajar berkurang,” ungkap Ustazah , salah satu guru madrasah.
Para orang tua berharap ada evaluasi dari Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama untuk menyelarasikan kebijakan formal dan kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat.(Ayub)
