
Jakarta, hariandialog.co.id.- Pemerintah melalui Bank Indonesia
selaku otoritas pengawasan uang rupiah harus mengonrol Mall atau
tempat keramaian mana yang menolak pembayaran transaksi dengan mata
uang asli rupiah.
Seperti penuturan Rizkawati alias Ika yang beli makanan
ringan dengan harga Rp.36 ribu di Mall Margonda yang berada di Jalan
Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, menolak pembayaran dengan uang
rupiah. “Maaf kami tidak menerima pembayaran dengan uang tunai. Disini
pembayaran menggunakan Q-ris dan Debit. Bank mana saja diterima
kecuali uang tunai,” kata pelayan dari Selvy.
Bahkan, pria tersebut dengan seenaknya mengatakan bahwa
perintah tidak menerima pembayaran uang tunai rupiah dari pimpinannya.
“Jadi saya hanya melaksanakan perintah dalam menerima pembayaran,”
kata pria tersebut dan mengaku sudah mengetahui viral toko roti O kena
sanksi denda Rp.200 juta karena tidak mau menerima pembayaran dari
seorang Nenek.
Ika melalui wartawan meminta agar Pemerintah entah
kepolisian maupun Bank Indonesia diminta mengontrol pusat pembelanjaan
mana atau pedagang mana yang melarang atau tidak mau menerima
pembayaran dengan uang tunai. “Coba kalau orang dari kampung atau desa
masuk ke Mall ini tidak bawa kartu debit bank maupun Q-Ris yang ada
uang kontan. Gagal dong beli yang diinginkan,” terang Ika.
Untuk itu, Ika juga meminta agar Bank Indonesia atau
melalui apapun itu Namanya agar megawasi pusat perbelanjaan yang
menolak pembayaran dengan uang tunai rupiah. “Pengelola juga harus
diingatkan agar para pedagang yang berusaha di lingkungan Mall
dilarang untuk tidak menerima pembayaran dengan uang tunai rupiah. Kan
uang rupiah ditekankan oleh pemerintah yang menyatakan hanya
satu-satunya pembayaran yang legal adalah mata uang rupiah,” jelas Ika
dengan jengkel harus mengeluarkan kartu debit hanya untuk pembayaran
Rp.36 ribu.
Ika juga menceritakan pengalamannya ketika membawa cucunya main ke
Aeon Mall di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tidak jadi makan karena
semua pedagang makan dan minuman hanya menerima pembayaran menggunakan
Q-ris. “Terus terang saya kecewa karena bawa uang rupiah pecahan
serratus ribu banyak di dompet tapi tidak bisa dibelanjakan. Akhirnya
ke tiga cucuku harus pulang dan makan di rumah makan di jalan Condet,
Jakarta Timur, hanya karena tidak punya Q-ris,” terangnya. (tob).
