Foto : Salah satu pengguna kendaraan roda dua menunjukkan kubangan jalan dan berlumpur yang sering terjadi terpleset pada waktu musim hujan
Bandung Barat, hariandialog.co.id – Jika kita memasuki wilayah Desa Pangauban Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, khususnya pada hari -hari weekend (Sabtu – Minggu), maka kita akan menjumpai lalu lintas cukup padat memasuki jalan desa Pangauban, pemandangan mencolok adalah begitu banyaknya kendaran berasal dari luar wilayah Bandung raya, seperti Jakarta, Bogor bahkan dari luar provinsi memasuki wilayah desa Pangauban.
Hal tersebut terjadi karena melonjaknya para wisatawan baik lokal maupun yangg berasal dari luar wilayah Bandung raya, yang penasaran dan tertarik untuk mengunjungi lokasi wisata yang berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir di wilayah tersebut. Sebut saja Musium Bahari, Rumah Makan Apung, Villa Prancis dan banyak lagi objek wisata air yg memiliki potensi sebagai destinasi wisata KBB kedepan.
Sayangnya potensi tersebut tidak memperoleh perhatian dari Pemkab Bandung Barat, hal ini terlihat dari rusak parahnya sarana jalan menuju lokasi objek wisata, sehingga banyak dikeluhkan oleh para wisatawan, termasuk seluruh pengguna jalan pada umumnya. Perlu diketahui jalan desa Pangauban saat ini merupakan perlintasan warga dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Saguling dan Batujajar, yang mengalami rusak parah sehingga mengganggu aktivitas warga di kedua kecamatan tersebut.
Ketidakpedulian Pemda KBB dalam upaya mendukung dan mengembangkan potensi wisata di wilayahnya akan berdampak buruk pada citra pemda itu sendiri di mata para wisatawan, yang dinilai tidak becus mengelola sumberdaya / potensial bagi peningkatan ekonomi masyarakatnya.
Selain kondisi jalan yang rusak parah di beberapa titik, minimnya sarana penerangan jalan umum ( PJU ), juga menjadi faktor tambahan atas asumsi masyarakat terhadap Pemda KBB yang memandang sebelah mata atas potensi unggulan wisata di daerahnya. Padahal jika dilihat dari bentangan jalan, jalan desa Pangauban tidaklah terlalu panjang, serta merupakan akses road yang sangat dekat ke ibukota kabupaten.
Banyak hal yang harus dibenahi oleh Pemda KBB, dalam merealisasikan program pengembangan destinasi wisata, seperti digembar gemborkan saat ini, terutama menyangkut sarana perbaikan jalan, penataan lokasi / objek wisata serta pelatihan-pelatihan kepada penduduk setempat untuk ikut andil dalam pengelolaan dan memperoleh dampak manfaat atas pengembangan objek wisata di daerahnya, sehingga penduduk setempat tidak hanya menjadi penonton atau bahkan menjadi pihak yang terdampak atas polusinya semata.
Hal trersebut dikatakan Ismail saat meninjau objek wisata yang ada di Desa Pangauban pada Selasa, 22 Februari 2022, kepada Dialog. Dikesempatan yang sama salah satu tokoh masyarakat menuturkan Emang benar akses jalan yang menuju Desa Pangauban sangat tidak menunjang kalau dilihat dari segi potensial wisata kawasan waduk Saguling yang dijadikan ikon wisata. “Sejak pemekaran Kabupaten Bandung Barat status jalan tersebut adalah jalan desa. Namun setelah jadi Kabupaten Bandung Barat jalan tersebut statusnya jadi jalan Kabupaten yang menghubungkan Kecamatan Batujajar ke Kecamatan Saguling adapun penghubung jalan tersebut dibuat jembatan yang dinamakan Jembatan “SURAPATIN” itu juga dikelola oleh pihak swasta hanya bisa dilalui pengguna roda dua serta penjalan kaki. Dan itu juga tidak gratis, setiap satu kali lintasan dikenakan tarif Rp.5000 bagi pengendara motor , penjalan kaki sama pengguna sepeda Rp.3000 karena sangat memudahkan lintasan jembatan tersebut bagi perekonomian masyarakat.
Menurut keterangan tokoh masyarakat yang enggan disebut identitasnya, ditemui wartawan Dialog, sambil menunjukkan jalan yang berlubang dan berlumpur sering terjadinya terpleset khususnya kendaraan roda dua karena jalanan banyak kubangan. Sementara pihak Pemkab Bandung Barat seakan tutup mata.
Sedangkan jalan yang menghubungkan Kecamatan Cihampelas menuju ke Kecamatan Gununghalu walaupun belum rampung yang menelan biaya sangat fantastis lebih dari yang panjangnya melebihi 10 km sedangkan akses menuju Desa Pangauban yang tidak jauh dari kota Bandung Barat hanya bisa ditempuh kurang lebih 5 km dari Kecamatan Batujajar, masih untung masyarakat tidak menanam pisang di tengah jalan dan tidak menaburkan benih lele karena saking kekesalan warga melihat jalan tersebut amburadul. (Nangon)
