Bekasi, hariandialog.co.id-Ibadah Minggu pagi Gereja HKBP Jatiasih semakin berwarna, pasalnya ibadah Minggu tersebut untuk pertama kalinya, diwarnai oleh musik Biola, selain musik orgen. Penampilan tim Biola ini terdiri dari 15 orang yang berasal dari kalangan remaja, terlihat mengiringi lagu pujian rohani hingga selesai ibadah.
Ibadah tersebut dilaksanakan pada Minggu XIII Dung Trinitatis, Pukul 07.00 Wib, di gereja HKBP setempat, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu, 14 September 2025.
Diketahui tim biola ini, dibentuk oleh panitia Transformasi HKBP Jatiasih, guna mendukung program Tahun Transformasi HKBP 2025 di seluruh dunia.
Mereka mendapat pelatihan dan bimbingan selama beberapa bulan, dari para instruktur yang terbaik, sehingga tak heran permainan musik Biola yang ditampilkan para remaja ini, sangat menarik dan mendapat apresiasi dari para jemaat.

Sementara itu, Pendeta fungsional HKBP Jatiasih, Marnaek Situmorang dalam khotbahnya, yang diambil dari Lukas 15 : 11-32 yang mengangkat cerita tentang perumpamaan seorang anak yang hilang.
Dia mengatakan, ini diumpamakan satu keluarga punya 2 anak, dimana bapaknya memelihara dan merawatnya mulai dari kecil sampai besar.
” Ingot do pe ra i, amang inang, coba kita bayangkan, dulu waktu kita sian bayi, met-met sahat tu magodang, bagaimana kita ditimang-timang, digendong-gendong, disayang-sayang, dicium, ido tahe,” ujar Marnaek.
Dalam kesempatan itu, Pdt Marnaek, juga mengajak jemaat untuk menyanyikan sejumlah lagu tempo dulu, salah satunya lagu Nina Bobo, yang menceritakan tentang bagaimana bahagianya dan betapa cintanya orangtua kita mengurus anak diwaktu kecil.
” Molo huingot i sude, loja ni dainang i, Marmudu au sian na metmet, tu na balga. Diompa au diabing au, asa sonang modom au, dideng-dideng di dok tu au da hasian,” pungkas Marnaek dalam penggalan lirik lagu Molo Hu Ingot, BESM No.10, jemaat sambil turut bernyanyi.
Marnaek menjelaskan, setelah besar anak ini menurut perumpamaan dari nats ini, anaknya memberontak dan arogan kepada bapaknya. Sehingga akhir hidup anak bungsu ini hidupnya menderita dan kelaparan, karena kesombongan dan berfoya-foya.
Dia melanjutkan maka ketika kita jauh dari Tuhan, maka hidup kita akan penderitaan, kesukaran, kesulitan dan rumah tangga kurang bahagia, kasih sayang hilang dan sebagainya.
” Kenapa?” menjauh dari Tuhan artinya putus hubungan dari Tuhan. Lalu bagaimana, ia berkata amang sadar nai au hape saleleng on, burju ni bapakki au do hape dang tau diri,” ujarnya diselingi bahasa batak.
Terakhir, Amang Pendeta Marnaek Situmorang mengajak seluruh jemaat yang hadir untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. “Persembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Supaya bertobatlah, supaya sadarlah, dan jadilah dirimu yang terbaik. Senangkanlah hati Tuhan, supaya Tuhan memberkatimu,” tandasnya. (Ram).
