Jakarta, hariandialog.co.id.- – Untuk pertama kalinya, jumlah inovasi diagnostik dan terapi
farmakologis untuk penyakit Alzheimer dan jenis demensia lainnya yang sedang dikembangkan bertambah dengan pesat. Namun kemajuan ini berisiko terhenti kecuali lebih banyak orang ikut serta dalam uji klinis dan kriteria kelayakan yang membatasi ditinjau ulang, demikian peringatan Alzheimer’s
Disease International (ADI) dan Alzheimer Indonesia (ALZI).
Laporan Alzheimer Dunia (World Alzheimer Report) terbaru dari ADI bertajuk “A new era in dementia clinical trials” atau Era Baru Uji Klinis Demensia menunjukkan bahwa pada 2026, lebih dari 158 calon
terapi sedang dievaluasi dalam lebih dari 192 uji klinis di seluruh dunia, dengan kebutuhan sekitar 55.000 peserta untuk menjalankan seluruh studi yang saat ini aktif.
Kriteria penyaringan yang ketat membuat banyak calon peserta tidak pernah lolos ke tahap uji klinis, sehingga diperkirakan dibutuhkan 350.000 relawan di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan rekrutmen. “Ini adalah momen penuh harapan bagi penelitian demensia.
Setelah puluhan tahun diwarnai kekecewaan, uji klinis untuk pertama kalinya membuktikan bahwa terapi farmakologis baru dapat memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer, dan semakin banyaknya uji klinis yang sedang berjalan membawa harapan nyata,” ujar Chris Lynch, Plt Chief Executive Alzheimer’s Disease
International.
“Kita berada di ambang revolusi dalam diagnostik dan terapi farmakologis demensia, namun hambatan besar dalam merekrut peserta uji klinis berisiko memperlambat kemajuan.”
“Setiap calon alat diagnostik atau terapi farmakologis baru bergantung pada kesediaan orang untuk menjadi relawan penelitian.
Namun rendahnya kesadaran akan uji klinis dan proses rujukan dari dokter maupun spesialis yang belum berjalan baik tidak hanya berisiko memperlambat kemajuan, tetapi juga dapat menghilangkan hak seseorang
untuk ikut serta dalam uji klinis.”
Lebih dari 60 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia, dan jumlahnya diproyeksikan melampaui 139 juta pada 2050. Lebih dari 60 persen di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah
dan menengah, dan porsinya diperkirakan naik melampaui 70 persen pada 2050.
Meski begitu, laporan ini menyoroti bahwa hampir separuh dari 6.763 lokasi uji klinis obat Alzheimer aktif yang tercatat di dunia berada di Amerika Utara dan negara berpenghasilan tinggi. Laporan ini juga mendorong lebih banyak pemerintah untuk berinvestasi dan membangun infrastruktur uji klinis di negara mereka, agar karakteristik nasional, regional, budaya, dan genetik yang penting dapat terwakili seiring bergeraknya dunia menuju terapi farmakologis yang lebih presisi, rel. (nasya-01)
