Kupang, hariandialog.co.id.- Wali Kota Kupang, Christian Widodo
mengatakan masih menunggu hasil pemeriksaan dan diagnosa dari dokter
yang menangani sebelas siswa SD Inpres Liliba yang diduga mengalami
keracunan usai mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG), Rabu, 24
September 2025 siang.
“Kita masih menunggu diagnosa dokter yang didahului anamnesa,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (laboratorium), dan
lain-lain,” kata Walikota Kupang Christian Widodo melalui pesan
tertulis saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Rabu malam.
Pemerintah Kota Kupang, sambungnya, belum bisa mengambil
sikap sebelum adanya hasil pemeriksaan dan diagnosa dari dokter.
Selain itu, Christian Widodo menjelaskan saat ini masih fokus
terhadap penanganan medis bagi 11 siswa yang diduga mengalami
keracunan.
Dia menerangkan penanganan bagi belasan siswa tersebut masih
berlangsung di Rumah Sakit Leona. “Penanganan di RS Leona sedang
berlangsung. Untuk penyebab kita masih dalami (masih diobservasi)
terhadap 11 anak yang mengeluh pusing, sakit perut, ada yang muntah,
sekarang tidak ada yang mencret. Belum tahu apakah penyebab
[keracunan] dari MBG atau tidak, sehingga belum bisa disimpulkan
keracunan MBG, karena anak anak lain makan yang sama dalam keadaan
baik,” ujarnya.
Christian mengatakan terlalu dini untuk berkomentar atau
menyimpulkan tentang penyebab dari keracunan yang dialami oleh belasan
siswa SD Inpres Liliba yang terjadi pada Rabu siang. “Terlalu dini
untuk saya berkomentar dan menyimpulkan penyebabnya. Yang terpenting
sekarang anak-anak sudah ditangani dalam keadaan stabil,” jelasnya.
Sebelumnya, setidaknya ada 11 siswa SD Inpres Liliba di Kota
Kupang, yang harus dilarikan ke rumah sakit usai diduga keracunan
pascakonsumsi MBG, Rabu siang ini.
Para murid yang mengalami keracunan tersebut mengaku pusing,
perut melilit, mual, meriang, bahkan sampai muntah-muntah usai
menyantap MBG. Menurut pengakuan para murid mereka mulai merasa lemas
dan pusing serta mual usai mengonsumsi MBG yang dibagikan pada pukul
12.20 Wita oleh pihak sekolah.
Sementara itu, Kepala SD Inpres Liliba, John Tukan,
menyampaikan distribusi MBG pada Rabu siang ini dilakukan pukul 12.15
Wita hingga kemudian disantap para murid.
Beberapa waktu kemudian, sambungnya, para murid mulai
menunjukkan tanda-tanda tidak sehat pada pukul 12.30 Wita. “Setelah
makan itu yang reaksi murid mulai mual, pusing dan sakit perut, ada 11
anak ini dari 2 kelas dari kelas 5A dan kelas 5D,” kata Jhon saat
dikonfirmasi.
Melihat kondisi para siswa tersebut, pihak sekolah langsung
berinisiatif membawa mereka ke rumah sakit untuk mendapat penanganan
medis.
Dia menjelaskan ini adalah kali pertama siswanya mengalami
keracunan sejak mendapat jatah MBG pada Februari lalu.
Diketahui itu adalah kali kedua kejadian keracunan MBG di Kota
Kupang. Sebelumnya peristiwa keracunan MBG terjadi di SMPN 8 Kota
Kupang pada 22 Juli lalu dengan jumlah korban 200 siswa.
Selain itu, pada 23 Juli juga terjadi keracunan MBG yang
dialami 77 siswa di Sumba Barat Daya.
Sejak dilaksanakan pada awal Januari lalu, program MBGterus
mendapatkan sorotan karena temuan kasus dari mulai menu yang diduga
gizinya tak sesuai, temuan hewan, busuk atau basi, hingga kasus
keracunan yang terjadi beberapa waktu terakhir.
Semua permasalahan itu pun mendorong pemerintah agar menyetop
dan mengevaluasi MBG.
Merespons hal itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan
Hindayana menyatakan akan menunggu arahan Presiden RI Prabowo
Subianto. “Saya ikut arahan Presiden, tidak berani mendahului,” ujar
Dadan kepada wartawan, Rabu.
Dadan belum bisa memastikan kapan pihaknya akan membahas MBG
bersama Prabowo. Dia mengaku masih menunggu kabar, tulis cnni.
(halim-01)
