
Medan,harianhdialog.co.id.-Kondisi Danau Toba saat ini mulai memprihatinkan karena banyak sampah dan juga limbah rumah tangga berserakan hingga sampah dan limbah tersebut ‘berenang’ di Danau Toba. Padahal Danau Toba yang merupakan salah satu danau terindah di dunia, juga merupakan icon parawisata Indonesia, khususnya Sumatera Utara (Sumut).
Seperti dalam postingan akun instagran sumatra_talk tgl 7 Januari 2023, Ketua DPD OKP Ganespa Sumatra Utara (Sumut) Raisha Ramadhan menanggapinya. Dia mengatakan sangat disayangkan icon Sumatera Utara sekaligus salah 1 icon bangsa seperti itu keadaannya. “Kok Danau Toba kondisinya kotor,” ujarnya
Dikatakan Raisha Ramdhani, yang kita tau Danau Toba merupakan danau alami terletak di Provinsi Sumatera Utara. “Tentunya semua masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi apabila mendengar kata danau toba, meskipun banyak masyarakat di Indonesia ataupun masyarakat dunia ada yang belum pernah mengunjunginya, tetapi mereka pasti sudah tahu ataupun mendengar lewat media sosial atau cerita dari orang yang pernah berkunjung ke sana bahwa keindahan danau terbesar di Asia Tenggara itu sudah tidak diragukan lagi keindahannya,” jelas Ketua DPD OKP Ganespa Sumut ini.
Selain menjadi sebuah icon wisata di Sumatera Utara, Danau Toba juga sering dijadikan lokasi untuk ajang perhelatan olah raga dayung atau upacara budaya lainnya. Bahkan di tahun 2023 ini akan diadakan world cup formula 1 speed boat yang mana tentunya akan menghadirkan banyak peserta ataupun wisatawan mancanegara yang akan hadir menyaksikan acara tersebut.
Namun terlepas dari itu semua, kata Raisha, dimana Danau Toba yang menjadi kebanggan masyarakat Indonesia pada umumnya dan khususnya masyarakat Sumatera Utara. saat ini mulai menampakkan sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan, sepertia yang sesuai dengan postingan akun ig sumatra_talk pada tgl 7 , tampak 1 sisi terdapat sampah banyak sampah atau limbah rumah tangga / limbah pelaku usaha yang mana dapat merusak ekosistem dan keindahannya.
Melihat keadaan seperti itu, KETUA DPD SUMUT ORGANISASI KEPEMUDAAN GUGUSAN ALAM NALAR EKOSISTEM PEMUDA (OKP GANESPA) RAISHA RAMADHAN turut bersuara dengan masalah yang terjadi di danau toba. Pemuda berusia 37 tahun ini mengatakan bahwasannya dalam pengelolaan lingkungan tidak bisa menyalahkan pihak tertentu karena dalam pengelolaan lingkungan semua mempunyai kewajiban dalam menjaganya karena lingkungan yang baik adalah warisan untuk generasi selanjutnya. Maka dari itu semua lapisan masyarakat ataupun pelaku usaha yang berada di Danau Toba harus bisa menjaga kebersihan untuk tidak membuang sampah ke danau atau pun mengalirkan air limbah rumah tangga ke danau toba.
“Begitupun dengan pemerintah daerah maupun pusat yang mempunyai kewenangan dalam pengelolaan lingkungan harus turut serta memfasilitasi masyarakat dalam hal pengelolaan lingkungan dan menjadi fasilitator dalam menjaga kebersihan danau toba,” kata Raisha Ramadhan.
Hal senada juga disuarakan oleh Ketua Rumah Relawan Kabupaten Batu Bara, Ismail. Pria yang akbrab disapa bang Mail atau Ka Mail ini bekerja menjadi salah 1 personil team reaksi cepat BPBD Kabupaten Batu Bara. Pria yang sekaligus aktivis lingkungan dan pemuda di Kabupaten BatuBara ini mengatakan, semua lapisan seperti Pemkab di Sumut yang mana salah 1 sisi danau toba masuk di wilayahnya, lapisan masyakarat, pelaku usaha, organisasi pemerhati lingkungan dan khususnya para pemudanya. “Semuanya harus bersinergi dalam mengelola Danau Toba agar permasalahan yang ada tidak berkelanjutan dan bisa terselesaikan karena dampak dari lingkungan yang bersih dan baik semua akan merasakannya baik saat ini ataupun untuk generasi selanjutnya,” tukasnya.
Ismail menambahkan, jika Pemkab sekitar Danau Toba butuh tambahan personil untuk melakukan kegiatan bersih-bersih, kami Rumah Relawan Kab Batu Bara siap untuk turun, ujarnya. (RR)
