Bogor, hariandialog.co.id.- Kementerian Pertanian (Kementan) kembali
mengukuhkan profesor riset, yakni Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan, Fadjry Djufry.
Pengukuhan Profesor Fadjry Djufri ini merupakan ke-630 secara nasional
dan ke-159 di lingkup Kementan.
Dalam orasi ilmiahnya, Fadjry menjelaskan, saat ini
sektor pertanian dihadapkan dengan berbagai tantangan. Dengan sumber
daya lahan dan air yang semakin terbatas, serta adanya fenomena
perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu, munculnya iklim
ekstrem serta terjadinya pergeseran pola musim dan curah hujan telah
menjadi ancaman bagi upaya peningkatan produksi pertanian.
Ia pun menyebutkan, Kementan telah merumuskan langkah
terobosan berupa inovasi teknologi, dukungan kebijakan yang dikemas
dalam konsep sistem pertanian maju, mandiri dan modern.
Dalam pertanian cerdas iklim inovatif berbasis teknologi
budidaya adaptif menuju pertanian modern berkelanjutan, Fadjry
menawarkan konsep Pertanian Cerdas Iklim Inovatif (PCII) yang
merupakan pengembangan dari Climate Smart Agriculture yang dicetuskan
FAO pada tahun 2013.
“PCII disesuaikan dengan tantangan riil kondisi pertanian
Indonesia saat ini, perkiraan keadaan ke depan, serta diperkaya dengan
berbagai inovasi teknologi budidaya hasil penelitian di berbagai
lokasi dan agroekosistem Indonesia, dan didukung Sistem Informasi
Iklim dan Tanaman (SICIT)” kata Fadjry di Auditorium Utama Ir Sadikin
Sumintawikarta, di Kota Bogor, Selasa (25-01-2022).
Profesor Riset Kementerian Pertanian ke-159 ini juga
merekomendasikan agar konsep Riset dan Pengembangan Inovatif dan
Kolaboratif (RPIK) yang telah dikembangkan Balitbangtan sejak 2020
dapat dijadikan pembuka jalan untuk mempercepat hilirisasi penerapan
PCII. “Konsep PCII pada dasarnya juga sangat relevan dengan beberapa
program strategis Kementerian Pertanian, terutama program Food Estate
pada lahan rawa dan lahan kering, serta lahan kering beriklim kering,”
lanjutnya.
Dalam konteks kebijakan, Fadjry yang terakhir menduduki
jabatan struktural sebagai Kepala Balitbangtan ini menjelaskan, model
PCII dapat diposisikan sebagai konsep atau sekaligus strategi dalam
menghadapi perubahan iklim dan tantangan pembangunan pertanian
lainnya.
Selain itu, kata dia, PCII dapat memperkuat berbagai
program strategis Kementerian Pertanian yang relevan seperti Food
Estate, ketahanan pangan, termasuk komitmen internasional dalam
menghadapi perubahan iklim. “Selain itu juga penguatan kelembagaan dan
korporasi petani, serta kerjasama antara Kementan dengan berbagai
lembaga penelitian serta perguruan tinggi dalam pengembangan dan
penerapan PCII,” jelasnya seperti dipublikasikan repbulika.
Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, turut
memberikan apresiasi atas gagasan Profesor Fadjry. Dia pun
mengharapkan peneliti lainnya juga untuk memberikan karya terbaiknya.
“Saya juga mengharapkan seluruh peneliti dapat turut aktif
berkontribusi pada perencanaan program dan kebijakan serta
implementasi pembangunan pertanian di Indonesia,” pungkasnya. (bing)
