
Majalengka, hariandialog.co.id – Pondok Pesantren Darul Atqiya, Desa Sindangkerta, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, menggelar acara Khotmil Kitab Alfiyah Ibnu Malik, Kitab Al-Imrithy, dan Juz Amma, Sabtu (28/6/2025). Kegiatan ini dirangkaikan dengan pelepasan serta kenaikan kelas santri kelas IX dan XII dari SMPS Model Nahdlatul Ulama (NU) Maja. Acara berlangsung semarak, disaksikan ribuan santri, wali santri, dan tamu undangan.
Hadir dalam kegiatan tahunan tersebut antara lain Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka Rd. Muhammad Umar Maruf, KH Ence Abdullah, Kabid SMP Disdik Majalengka H. Memet Akhmad Slamet, Camat Maja Doni Ferdiansyah, Danramil Maja Kapten Inf Wawan Winggara, Kepala Desa Sindangkerta M. Sobirin, serta para tokoh masyarakat dan ulama.
Rangkaian acara dimulai pukul 09.30 WIB dengan penampilan hafalan nadzhom dari para santri SMPS NU dan MAPK Darul Atqiya. Para santri melantunkan nadzhom dari Kitab Alfiyah Ibnu Malik, Al-Imrithy, dan Juz Amma secara bergantian, penuh penghayatan dengan gaya khas pesantren Nahdliyin, menghadirkan suasana khidmat dan mengharukan.

Selain khotmil, acara diisi dengan tausiah oleh KH Ence Abdullah, Pengasuh Ponpes Gunungsari Malausma, serta ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pengasuh Ponpes Rajagaluh.
KH Dedi Mulyadi, Pengasuh Ponpes Darul Atqiya, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari agenda tahunan pondok dalam menandai selesainya pembelajaran kitab-kitab klasik serta momentum pelepasan santri akhir jenjang pendidikan.
“Tahun ini, khotimin dan khotimat Alfiyah Ibnu Malik angkatan pertama berjumlah 17 santri. Untuk Kitab Al-Imrithy, angkatan pertama terdiri dari 24 santri, sementara dari angkatan ke-13 ada 13 santri,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh kegiatan berada dalam naungan program Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK), yang menggabungkan kurikulum Merdeka Belajar dengan pendidikan pesantren berbasis kitab kuning.
“MAPK fokus pada pendalaman ilmu agama (tafaqquh fi’d-din) secara intensif, dengan porsi pelajaran agama yang dominan, tetap dalam sistem formal tingkat MA,” tambahnya.

Lebih dari itu, para santri juga dibekali keterampilan organisasi, keaktifan dalam kegiatan OSIS, dokumentasi kegiatan, hingga pengelolaan media sosial pesantren.
“Ponpes Darul Atqiya berkomitmen menjadi pusat pendidikan integratif antara pesantren dan sistem nasional, serta adaptif terhadap era digital,” pungkas KH Dedi Mulyadi, yang juga merupakan mantan Ketua PCNU Kabupaten Majalengka.(Ayub)
