
BATU BARA, hariandialog.co.id — Momen open house Bupati dan Wakil Bupati Batu Bara di tempat dan waktu yang berbeda, baru-baru ini menjadi lebih dari sekadar ajang silaturahmi biasa.
Kehadiran Ok Khairul, atau yang akrab disapa Datuk Setiawangsa II, membawa misi penting: mengingatkan para pemimpin daerah bahwa kemajuan Batu Bara tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya.
Kunjungan Datuk setiawangsa II Didampingi Ketua Laskat Melayu Batu Bara (LMB) Abdul kholid, pertemuan ini menjadi simbol harmonisnya hubungan antara Kepala pemerintah daerah dan tokoh adat dalam menjaga marwah negeri.
Dalam suasana yang penuh keakraban, Datuk Setiawangsa II menitipkan pesan mendalam bahwa Bupati dan Wakil Bupati adalah penjaga amanah sejarah. Beliau menegaskan bahwa identitas asli Kabupaten Batu Bara terletak pada keberadaan Sembilan Kedatukan yang memiliki sejarah panjang.
Sembilan wilayah adat ini bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan entitas hidup yang memiliki zuriat atau keturunan yang harus terus diakui dan dilestarikan keberadaannya di tengah modernisasi.
Pesan intinya sangat tegas: “Garis keturunan ini jangan sampai putus!” Ungkap Datuk Setiawangsa II.
Saat ini saya sebagai Ketua Majelis Kedatukan Melayu Negri Batu Bara, yang mana dirinya sebagai jembatan aspirasi bagi para keturunan Kedatukan agar tetap dilibatkan dalam pembangunan daerah.
Baginya, menjaga kelestarian zuriat adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur Melayu tetap menjadi kompas dalam setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah.
Semoga Sinergi antara Majelis Kedatukan dan Pemerintah Kabupaten Batu Bara ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kemajuan daerah yang berkarakter.
Dengan menjaga eksistensi sembilan Kedatukan, Batu Bara tidak hanya mengejar pertumbuhan fisik, tetapi juga merawat “ruh” budayanya agar tetap tegak berdiri.
Inilah wujud nyata komitmen untuk membangun masa depan tanpa melupakan asal-usul, demi mewujudkan Negeri Batu Bara yang bermartabat dan berkebudayaan.
(R Ramadhan)
