Rantau Prapat, hariandialog.co.id- Sungguh menyedihkan, bangunan yang baru saja diresmikan Gubsu (Gubernur Sumatera Utara) Edy Rahmayadi 2 bulan yang lalu, hancur berantakan bahkan yang lebih menyedihkan pagar beton roboh tanpa sebab, diduga hal ini terjadi akibat kurangnya pengawasan dan konsultan maupun adanya dugaan ‘ permainan’ pekerjaan.
Bangunan yang menyedihkan tersebut adalah bangunan Unit Pelaksana Tehnis (UPT) Pembibitan Ternak Ruminansia Lobusona Dinas Ketahanan Pangan Dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumatera Utara (Provsu) yang terletak di Jalan Juang 45, Komplek Puskeswan Desa Lobusona, Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu.
Dari pengamatan Tim dilapangan, seluruh beton yang menjadi pagar pada area seluas delapan hektar itu roboh bertumbangan dan sebagian temboknya juga dalam kondisi hancur.Padahal di dalamnya ada kandang hewan ternak, gedung kantor dan juga hamparan hijau pakan ternak.
Salah seorang pemerhati publik Pasaribu yang turut melakukan investigasi mengatakan bahwa sesuai hasil infestigasi yang dilakukannya ke UPT itu pada Selasa (13/10/2021) yang lalu, bangunan pagar sepanjang 15 meter roboh dan dibiarkan begitu saja tanpa ada tanggung jawab. Selain itu, batubata juga terlihat berserakan yang membuat kandang ternak menjadi tidak aman.
“ Kami sudah menduga adanya permainan dalam proyek ini, bayangkan papan plang proyek tidak pernah dipasang selama pengerjaan proyek yang bersumber dari APBD murni Provsu Tahun Anggaran 2020,” ujarnya kepada wartawan, Senin (18/10/2021).
Dari penuturan Pasaribu lagi, bahwa pengakuan dari Kepala UPT, H. Hutauruk yang ‘ tak masuk akal’ pagar yang roboh itu diakibatkan oleh angin kencang yang menerpa daerah tempat UPT itu dibangun.Dan dirinya melempar tanggung jawab kepada DKPP( Dinas Ketahanan Pangan Dan Peternakan ) Provsu.
Namun ketika hal tersebut dikonfrontir Tim kepada kepada Sekretaris DKPP Provsu, Zubair Harahap dengan entengnya menyebutkan kondisi pagar gedung UPT yang roboh dan kondisi bangunan yang kumuh ini, Zubair menyebutkan bahwa rubuhnya tembok itu disebabkan bencana banjir.
Pasaribu mengatakan hal ini sanga menggelikan kedua pejabat publik tersebut punya pernyataan yang berbeda untuk menghindar dari tanggung jawab.Bahkan Zubair menambahkan dengan nada keras mengatakan manusia saja mati apalagi hasil pekerjaan manusia, kita tidak tahu.
Jawaban seorang pejabat publik yang membuat seluruh elemen masyarakat merasa geli dan tertawa.Sehingga opini masyarakat berkembang dan memduga kalau proyek miliaran rupiah itu dikerjakan tidak sesuai bestek, sehingga jawaban seorang Sekretaris sudah ngawur dan tidak jelas.
Di akhir pembicaraannya, Zubair menyarankan agar pemerhati publik membuat surat tertulis ke DKPP Provsu agar dapat dijawab dengan jelas dan tertulis.Hal ini disebutkan Pasaribu hal biasa dari pejabat publik untuk menghindar dari tanggung jawab.(Tim/( Emmar )
