
Barus, hariandialog.co.id.– Pungutan uang retribusi menuju Makam Syech Mahfud Fil Hidratul Maut di Desa Penanggahan, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, walaupun hanya Rp.3.000.- per orang, rasanya kurang pas atau tidak tepat.

Padahal, menurut informasi dari Masyarakat setempat bahwa makam Syech Mahfud Fil Hidratul Maut yang juga disebut Makam
Papan Tinggi itu sudah masuk dalam pengelolaan Dinas Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Artinya, sudah ada anggaran baik untuk
sarana maupun prasarana menuju makam yang cukup tinggi. Sehingga punugutan sudah tidak pas karena makam ada dipuncak dan tidak mungkin bisa membawa sampah ke atas. Membawa diri saja sudah susah sangkin tingginya.
Prasarana yang ada di bawah sebelum menuju ke atas ada beberapa warung dan toilet atau kamar kecil tersedia. Bagi yang ingin
berkunjung di atas sudah ada lampu penerangan menggunakan tenaga surya. “Ini bantuan dari Bank Indonesis. Nama dan jabatannya yang menyerahkan bantuan lampu lengkap dengan tiangnya sudah lupa,” kata salah seorang warga yang ditemui dan diajak bincang-bincang.
Memang, untuk menuju makam yang mungkin tertinggi di Indonesia karena harus melewati 1.000 anak tangga agar bisa sampai di atas. Sehingga ada yang menyebut makam Papan Tinggi dan ada juga Makam Seribu Tangga. Bukan hanya saja tingginya tapi juga makan yang dihiasi bebatuan warna putih itu panjangnya ada penyebutan 7 meter tapi bila diukur dengan meteran ukuran pertama dan yang ulangan pasti beda.
Makam Syech Mahfud Fil Hidratul Maut itu, sudah menjadi destinasi wisata religi. Namun, yang berkunjung ke makam itu
bukan hanya masyarakat atau umat muslim (Islam) tapi Nasrani atau yang beragama Kristian juga datang. Bukan hanya warga setempat atau seputaran Tapanuli Tengah, Selatan, Utara yang berkunjung tapi dari luar Sumatera bahkan luar negeri seperti Pakistan, Malaysia, China, Afganistan, Amerika, Inggris, tapi hampir negara yang ada umat muslimnya.
Menuju makam Syech Mahfud Fil Hidratul Maut, ada tempat istirahat sedekar mencari tenaga untuk naik dan naik ke atas.
Dan bagi mereka yang ingin menambah tenaga hanya ada tersedia minuman agar kuat menuju tujuan yaitu ke makam.
Para peziarah atau pengunjung yang sudah tiba di atas hanya berdoa dan sudah ada tersedia ambal karpet warna hijau tempat
duduk untuk berdoa. Bagi yang beragama muslim sudah tersedia sajadah untuk sholat dan surat Yasin untuk dibaca sebagai jalan mendoakan siapa saja.
Memang, dari puncak bukit tempat makamnya Syech Mahfud Fil Hijdratul Maut itu bisa terlihat kota Sibolga maupun sedikit
Pulau Nias, dan ini menunjukkan ketinggiannya.
Di atas bukit ada yang beberapa makam tapi paling Panjang adalah makam Syech Mahfud. Rasanya tidak ingin buru buru turun dari Lokasi makam karena angin sepoi sepoi. Maklum tidak ada pepohon dan jalan menuju tempat tersebut yang ada hanya Ilalang.
Menuju ke atas jalanan sudah di hot mik lebarnya satu meter. Dan jalansatu meter itu dibagi dua dengan pembatas besi yang
digunakan sebagai pegangan menuju ke atas maupun turun dari atas. Tujuannya ada pembatas dengan besi menjadi pegangan itu agar tidak bentrok yang turun tentu sudah ziarah dan naik ingin ke atas. Maklum, lokasinya cukup terjal. Dan harus ekstra hati-hati menuju tempat tersebut.
Penulis yang dahulu sering berkunjung, dan berdoa ke Makam Papan Tinggi atau Makam Syech Mahfud Fil Hidratul Maut itu,
sudah sepuluh tahun tidak hadir. Namun, suasana masih saja seperti 10 tahun lalu, cuman yang ada penambahan dari pemerintah apakah Kabupaten atau Provinsi hanya kios kios dan kamar kecil alias toilet. Tambahan yang ada parkir kendaraan walau harus bayar Rp.10 ribu, sedangkan sepuluh tahun lalu bila datang dengan menggunakan kendaraan parkir kendaraan di pinggir jalan raya Sibolga – Barus.
Masyarakat setempat mengaku banyak yang dating bukan hanya warga biasa tapi juga pejabat negara. “Terakhir yang datang
berkunjung ke Makam Papan Tinggi yakni Anies Baswedan sementara Joko Widodo saat menjabat sebagai Presiden RI hanya lewat saja. Pak Presiden Joko Widodo tidak singgah langsung lanjut ke makam lain,” terang warga itu. (tobing-01).
