Jakarta, hariandialog.co.id.- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
mencatatkan penyaluran kredit valuta asing (valas tumbuh positif
15,55% secara year to date (YtD) hingga September 2022.
Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha
menyatakan ini sejalan dengan permintaan kredit valas untuk menopang
ekspansi bisnis usaha nasabah. “DPK valas tumbuh positif 12,00% YtD
per September 2022. Bank Mandiri secara aktif terus melakukan langkah
strategis untuk menjaga likuiditas di tengah dinamika makro global
berupa peningkatan suku bunga pasar dan kebutuhan ekspansi bisnis
nasabah,” ujar Rudi kepada Kontan.co.id pada pekan lalu.
Bank Mandiri mengoptimalkan pengelolaan likuiditas dengan
strategi pricing dana secara selektif dan terukur sebagai upaya untuk
mengakuisisi maupun mempertahankan DPK. Melakukan pengelolaan kontrol
dan monitoring terhadap pencairan kredit valas. Lalu, memanfaatkan
instrumen-instrumen treasury dalam memenuhi kebutuhan likuiditas
jangka pendek.
Hal ini bertujuan agar pengelolaan asset and liability dapat
mencapai tujuan finansial dengan biaya dana atau cost of fund yang
terjaga dan mengontrol risiko likuiditas yang dihadapi. Baca Juga:
Bank Muamalat Pimpin Sindikasi Pembiayaan Rumah Sakit Milik NU Senilai
Rp 240 Miliar “Di tengah kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang signifikan
dan demand kredit Valas yang meningkat sepanjang tahun 2022, Bank
Mandiri dapat mengelola likuiditas Valas dengan optimal. Hal ini
terlihat dari DPK Valas yang juga tumbuh dan rasio-rasio likuiditas
yang dapat terjaga sesuai dengan ketentuan,” ujarnya.
Rudi menyatakan pada 2023 mempertimbangkan proyeksi bahwa
penyaluran Kredit Valas akan meningkat seiring dengan kondisi bisnis
dan perekonomian yang mulai bergerak kembali. Juga FFR yang
diproyeksikan akan mulai stabil, Bank Mandiri akan terus mengkaji
serta memonitor kecukupan likuiditas dari waktu ke waktu serta
mengelolanya secara prudent dan optimal. “Adapun apabila dipandang
terdapat kebutuhan likuiditas Valas, Bank Mandiri memiliki berbagai
macam alternatif untuk melakukan pendanaan baik melalui intensifikasi
strategi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK),” jelasnya.
Bank Mandiri juga bisa melakukan pendanaan non-DPK atau
wholesale funding melalui transaksi yang sifatnya bilateral dan
penerbitan obligasi. Rudi memastikan dalam mengeksekusi strategi
pendanaan tersebut, Bank Mandiri akan mempertimbangkan berbagai aspek,
antara lain opsi instrumen yang tersedia, timing yang tepat, serta
kondisi pasar. (diah).
