
Cibinong, hariandialog.co.id -Tak hanya di wilayah DKJ Jakarta saja yang langka dengan Gas LPG 3kg. Kelangkaan tersebut juga dirasakan warga di Desa Bojong Gede Kabupaten Bogor mengeluhkan kesulitan mendapatkan pasokan gas tersebut, yang kini semakin sulit ditemukan di pangkalan dan kios pengecer, sejak hari Senin (27/01/25) hingga saat ini Kamis (2/02/25).
Beberapa ibu rumah tangga mengungkapkan bahwa mereka harus mengantri lama di beberapa toko atau bahkan membeli dengan harga mencapai Rp 30 ribu. ” Harga mahal engga apa apa tapi gas sulit untuk dicari, ” ujar Sri Yuni warga Kp Setu Bojong Gede kepada Dialog, Kamis (30/01/25).
Kelangkaan gas tersebut di- picu oleh larangan pengecer atau warung menjual gas melon, kecuali punya Nomor Induk Berusaha (NIB). Pengamat ekonomi dari Universitas Padjadjaran Ferry Hadiyanto mengatakan, aturan gas melon terkait dengan barang bersubsidi. Pemerintah selama beberapa tahun terakhir sedang memperbaiki mekanisme tata kelolanya.
“Sama seperti BBM (bahan bakar minyak), maka gas bersubsidi juga harus memiliki asas tepat sasaran. Karena se- jak awal, adanya gas melon (elpiji 3 kilogram) memang diperuntukkan bagi rakyat miskin,” ujarnya.
Sebelumnya, kata Ferry, pemerintah berupaya mengetatkan penjualan dengan keharusan menunjukkan KTP sebagai syarat pembelian. Namun, sepertinya tidak efektif.
Menurut Ferry, subsidi tepat sasaran menjadi sangat penting. Apalagi, saat ini, pemerintah juga harus menjalankan efisiensi anggaran agar beban keuangan negara untuk subsidi tidak terus membengkak.
“Aspek berikutnya yang penting dalam aturan ini adalah sebagai kontrol dalam menetapkan harga jual yang lebih seragam,” katanya. (Tile)
