Majalengka,hariandialog.co.id Terminal Cideres, salah satu fasilitas transportasi penting di Kabupaten Majalengka, kini hanya menyisakan kenangan. Pasca wafatnya mantan Bupati Hj. Tutty Hayati Anwar, SH—yang dikenal memperhatikan sektor transportasi—terminal ini kian sepi dan tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Dulunya ramai dengan aktivitas angkutan umum dan pedagang kaki lima, kini Terminal Cideres hanya dihuni segelintir angkot dan satu-dua penjual makanan yang tak bertahan lama.
“Sekarang elep dan bus tidak masuk ke terminal. Retribusi jadi tidak bisa ditarik. Hanya dari angkot, itu pun tidak semua. Pendapatan maksimal sehari paling Rp160.000,” ujar Abdul Azis, petugas terminal, Kamis (15/5) pagi.
Ia mengungkapkan bahwa hanya ada satu penjual makanan—seorang ibu asal Cipaku—yang masih bertahan sebentar di pagi hari, menjajakan nasi kuning dan gorengan. Itu pun hanya sampai pukul 08.30 WIB, dengan pelanggan terbatas dari kalangan sopir dan warga sekitar.
Sepi karena Jauh dari Pusat Keramaian.

Azis menilai lokasi terminal yang jauh dari pasar menjadi salah satu alasan utama turunnya aktivitas. “Terminal ini terlalu jauh dari keramaian. Harusnya terminal dibangun dekat pasar supaya ada kehidupan,” jelasnya.
Meskipun kondisi terminal tidak produktif, petugas masih tetap harus menjalankan tugas dengan jumlah personel 3 hingga 4 orang per hari. Mereka berharap ada upaya dari pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali terminal, seperti di era Bupati Tutty.
Catatan untuk Pemkab Majalengka
Kondisi Terminal Cideres menjadi refleksi penting atas perlunya tata kelola transportasi publik yang lebih strategis. Jika dibiarkan, fasilitas yang sudah dibangun dengan dana publik ini akan terus merugi dan tidak memberikan manfaat berarti bagi masyarakat.(MK)
