
Cirebon, hariandialog.co.id – Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida ,mengapresiasi penyelenggaraan Generasi Politik ,yang dinilainya menjadi ruang bagi anak muda untuk berdiskusi dan memahami politik secara lebih dekat. “Keterlibatan generasi muda dalam membicarakan persoalan publik sekaligus menunjukkan bahwa anak muda memiliki kepedulian terhadap arah pembangunan daerah.hal tersebut di katakan saat menghadiri kegiatan Genpol, interaksi Chapter Cirebon di Gedung DPRD Kota Cirebon ,Sabtu (19/9/2026).
“Mengumpulkan anak-anak muda untuk duduk bersama membicarakan politik merupakan pencapaian yang luar biasa. Kehadiran teman-teman di sini menunjukkan bahwa anak muda tidak apatis. Mereka peduli terhadap apa yang terjadi di Kota Cirebon, terhadap arah kebijakan daerah, dan terhadap masa depan daerah maupun negara,” ujarnya.
“Politik sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, Siti Farida berharap generasi muda tidak hanya tertarik mengikuti dinamika politik, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami kebijakan publik secara utuh. Menurutnya, keterlibatan anak muda dibutuhkan agar proses pemerintahan dapat terus mendapatkan perspektif baru dari masyarakat.
Menurutnya, kritik dari generasi muda tetap diperlukan sebagai bagian dari proses perbaikan pemerintahan. Namun, kritik tersebut diharapkan tidak berhenti pada reaksi atau kemarahan, melainkan disertai pemahaman terhadap persoalan dan data yang memadai.
“Kita membutuhkan generasi muda yang melek kebijakan publik, mampu menganalisis dan memahami bagaimana sebuah kebijakan dilaksanakan. Dengan begitu, kritik yang disampaikan kepada pemerintah bisa menjadi kritik yang tajam, berbasis data, sekaligus solutif,” ujarnya.
Ia berharap ruang diskusi yang dibangun melalui Genpol dapat melahirkan gagasan dan gerakan yang memberikan manfaat bagi Kota Cirebon.
“Manfaatkan ruang ini untuk belajar dan berdiskusi. Jadilah agen perubahan yang sesungguhnya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Genpol InterAksi Chapter Cirebon, Mario Asyidik, mengatakan kegiatan tersebut secara khusus mengangkat tema pragmatisme politik, sebuah isu yang dinilai dekat dengan dinamika politik saat ini tetapi masih perlu dibahas secara lebih mendalam.
“Pragmatisme politik sering kali dianggap sebagai satu-satunya cara untuk bertahan dalam realitas politik yang keras. Namun, jika pragmatisme berjalan tanpa arah dan tanpa kendali, kita berisiko kehilangan kompas moral dan mengorbankan idealisme yang seharusnya menjadi motor penggerak generasi muda,” ujar Mario.
“Bertanyalah dengan kritis, berdiskusilah dengan terbuka, dan serap setiap ilmu yang dibagikan. Harapannya, setelah keluar dari ruangan ini, teman-teman tidak lagi memandang politik secara apatis, tetapi menjadi generasi yang bijak, bernalar kritis, dan siap membawa perubahan yang nyata,” ujarnya.(budhi)
