Jakarta, hariandialog.co.id.- — Bencana banjir Sumatera membuat para
warga di Aceh memutuskan untuk menjadi nomaden dengan berpindah dari
rumah ke rumah mencari tempat aman dan nyaman, usai rumah milik mereka
hanyut dihantam banjir hingga tertimbun longsor.
Sebenarnya ada satu opsi berupa tenda pengungsian yang
dibangun di setiap posko daerah yang terdampak, tapi tak sedikit dari
para penyintas bencana yang memutuskan untuk berpindah dari rumah
saudara ke sanak famili lain.
Walau dengan hati segan, mereka mencari bantuan famili atau
kerabat yang tangannya terbuka, sembari menunggu selesainya hunian
sementara (Huntara).
Salah satunya dialami Hasafah. Di tengah siang terik sembari
menahan dahaga karena berpuasa Ramadan, ia menggendong putrinya
menyusur jalan setapak desa yang masih dipenuhi puing-puing bangunan
dan retakan aspal.
Langkahnya kemudian melewati jalan tapak berlumpur yang cukup
curam. Suaminya, Mohammad Natsir, berada di belakangnya membuntuti.
Akses menuju Desa Pantan Kemuning, Dusun Pintu Rimba,
Kecamatan Timang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, tempat Natsir dan
Hasafah bermukim saat ini, cuma bisa diakses dengan kendaraan roda
dua, tulis cnni. (salim-01)
