
Jakarta, hariandialog.co.id.- Para pedagang gorengan yang
berjualan di kaki lima atau di pinggir jalan, ngedumel kepada
pemerintah karena tidak bisa membatasi harga-harga yang berganti.
“Bukan naik lagi tapi ganti harga,” kata Ani pedagang di pinggir jalan
Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Ani yang mengaku tamatan SLTA dari Tasik Malaya itu
mengaku yang disalahkan pemerintah karena tidak bisa mengawasi
pergantian harga. “Kan semua kunci keberhasilan menekan harga-harga
yah pemerintahlah. Kan pemerintah punya banyak mata dan tangan untuk
bertindak,” Ungkap Ani yang setiap hari berjualan gorengan bersama
suaminya.
Wanita beranak dua dan keduanya sedang menempuh pendidikan
di perguruan tinggi negeri itu, merasa ngedumel karena hidupnya sejak
puluhan tahun lalu sudah menggantungkan kehidupan dengan berdagang
gorengan. “Coba harga plastik yang wajib untuk membungkus gorengan
naiknya Rp.10 ribu dari harga bisa Rp.13 ribu sekarang sudah Ganti
harga menjadi Rp.22 ribu. Jadi kami sudah dibuat susah,” jelas Ani.
Suaminya Pairi yang baru saja pulang belanja juga
menceritakan kepada Ani bahwa harga minyak goreng dengan takaran 2
kilogram juga naik Rp.10 ribu. “Jadi kami para pedagang kecil ini mau
bilang apa. Dan pasrah untuk tetap berjualan dengan harga bahan cukup
tinggi dan bisa dikatakan gila. Gorengan kita yang biasa 4 diharga
Rp.5 ribu sekarang menjadi 3 potong Rp.5 ribu. Terpaksa kita naikkan
dengan terlebih dahulu minta maaf kepada pelanggan,” aku Pairi.
Pedagang gorengan Ujang, di Pasar Kaget, Rawajati,
Pancorang, Jakarta Selatan, juga mengeluhkan kenaikan harga yang tidak
tanggung-tanggung. “Coba plastik naik dan minyak goreng juga. Kalau
umbian seperti singkong, ubi dan pisang yang hasil tangan parapetani
tidak naik. Tapi tempe juga naik. Yah kita sesuaikan besaran potongan
tempenya. Mau berbuat apa lagi kecuali mempertipis potongan tempe.
Semua ini tidak jelas arah pemerintah,” aku Ujang pedagang asal
Pandegelang, Banten itu.
Makmun, pedagang gorengan di Jalan Raya Bogor, juga
mengeluhkan kenaikan harga. “Yah plastik alasan langganan di Pasar
naik karena bahan bakunya dari luar dan harus melewati negara yang
sedang berperang. Kalau minyak goreng kan produk hasil kelapa sawit
dan pabriknya juga di daerah. Jadi kanapa harus di naikkan. Kita para
pedagang kecil pinggir jalan ini arah pemerintah dalam melindungi
rakyatnya tidak jelas,” terang Makmun yang hanya tamatan SD asal
Sumedang, Jawa Barat itu. (horas-01)
