Jakarta, hariandialog.co.id – Rakyat sepertinya sudah tidak tahan dengan keadaan yang sekarang ini. Semua masalah dibebankan kepada rakyat. Sehingga berteriak sekuat tenaga suaranya. Namun, sudah tidak ada yang peduli.
“Mana wakil rakyat yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR. Mereka kami pilih dan duduk di tempat yang sejuk dengan udara nyaman. Kami rakyat yang memberi mereka makan, minum dan fasilitas adalah dari hasil jerih payah dan kerja keras orang orang yang memilihnya. Jadi kemana mereka anggota DPR itu,” itulah sebagai rangkuman atas teriakan rakyat dalam menyikapi keadaan sulit dan sulit yang terjadi sekarang.
Rakyat berteriak untuk kenyamanan dan kesejahteraan. Tapi yang hadir di negeri tercinta hanya kesengsaraan. Beragam-ragam kesengsaraan rakyat saat ini. Para wakil rakyat tahu, melihat dan mendengar jeritan demi jeritan tapi pura-pura tidak atau dan lebih tepatnya “masa bodoh” asal jangan saudara dan dirinya atau kelompoknya yang mengalaminya.
Marno, seorang tukang daging dan sudah pasti mewakili puluhan rekan rekannya sesama penjual daging sapi berteriak. “Mana ini anggota DPR. Kok tidak mencermati dan mengamati akan keadaan rakyatnya. Kami sudah pusing tujuh keliling menikmati harga daging saat membeli yang harganya terus naik. Harga daging sapi diganti sama pemasok tapi DPR diam saja. Mana, kami dibela pedagang kecil yang mengecer daging,” ungkap pedagang itu.
Riani, pedagang ayam kampung juga berteriak. “Apa tidak ada suara lantang dari Gedung DPR untuk perbaikan ekonomi negara ini. Semua apa saja kalau kita belanja sudah mahal karena harga dinaikkan. Saya tidak tau mau bilang apa lagi. Dagang ayam hidup susah lakunya. Coba seperti hari ini, jatah ayam 150 ekor, hanya laku sepuluh ekor dari pagi hingga siang ini sudah jam 11. Mati lagi dua ekor. Ah, semakin runyam perekonomian ini,” ujarnya.
Dia bercerita, bukan hanya dirinya menderita dengan penjualan berkurang dan menurun drastis. “Langganan ayam saya yang biasa memesan via telepon setiap Sabtu dan Minggu minimal 10 ekor. Eh, dari kemarin tidak ada kabar dan giliran dihubungi jawabannya, tidak belanja dulu karena sepi pembeli. Jadi kalaupun pesan ayam besok hanya empat ekor,” ujar Riani menirukan pelanggannya.
Iwit, warga Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan juga berteriak. “Dimana dewan yang terhormat dan pilihan rakyat itu. Semua biaya pendidikan mahal. Mana itu Sekolah Rakyat. Putra saya mau masuk SLTA dimintai sekolah swasta Rp.16 juta plus uang sekolah satu bulan. Untuk anak saya diterima di SMA Negeri walau jauh. Coba apakah wakil rakyat itu mengerti saat tahun ajaran baru ini akan biaya dan biaya untuk pendidikan baik buku dan lain-lainnya,” kata Iwit sambil angkat pundak seperti susah.
Begitu juga terkait keamanan, saudara-saudara yang dari ujung Timur, Papua, juga menjerit.
“Keamanan di Papua disebut cukup parah. Aparat keamanan tidak memberi kenyamanan dan keamanan tapi malah terus dan terus mengambil lahan tanah rakyat dengan alasan buat proyek strategis nasional seperti membangun Sekolah Rakyat. Untuk Koperasi Desa Merah Putih dan buat tempat mendirikan barak aparat keamanan. Dan berbagai dalih guna mendapatkan lahan rakyat,” kata warga berteriak melalui medsos.
Warga Papua senantiasa terus berteriak agar suara mereka didengar oleh pejabat pemerinahan terkhusus para anggota DPR RI. Namun, sepertinya tidak ada telinga dan hati nurani para wakil rakyat yang berkantor dengan stelan jas mewah dan kendaraan dinas bagus.
Darbin, warga Lapogambiri, Tarutung, juga meneriakkan. ‘Mana ini DPR RI yang membidangi BBM. Sampai kapan kami ini harus dideritakan oleh keadaan kesulitan mendapatkan BBM. “Coba rakyat kecil dengan penghasilan pas-pasan dipaksa oleh pemerintah harus menggunakan BBM jenis Pertamax. Padahal, selama ini beroleh BBM subsidi yaitu Pertalite. Keadaan sekarang ini sudah bagaikan dijajah oleh ekonomi. Beberapa bahan sembako mahal dan sementara pajak dan terus dipajakin rakyat. Mana ada perjuangan DPR buat rakyat,” ungkap Darbin.
Sebenarnya teriakan suara DPR untuk pembelaan kepada rakyat TIDAK ADA. “Sering kita lihat di televisi tentang rapat dengar pendapat antara pemerintah dengan DPR RI dari berbagai komisi atau jenis bidang masing-masing. Tapi hanya sampai di situ saja tanpa ada folowup-nya. Jadi sekeras apa dan bagaimanapun rakyat berteriak tidak akan didengar apalagi ditindaklanjuti,” ungkap Usman mantan anggota dewan di daerah Kalimantan yang dimintai tanggapan akan situasi saat ini. (tim – red)
