
Bandung Barat, hariandialog.co.id – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 jenjang SMP Negeri di Kabupaten Bandung Barat (KBB) mendapat respons positif dari masyarakat. Selain berjalan tertib sesuai petunjuk teknis (juknis) yang ditetapkan, mekanisme penerimaan tahun ini dinilai lebih inklusif serta memberikan ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi para calon murid dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ketua MKKS SMP Negeri Bandung Barat, Suhartono, S.Pd.I., M.M., yang juga menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 1 Padalarang, menyampaikan bahwa seluruh tahapan SPMB dirancang secara matang melalui kolaborasi lintas sektor. Hal tersebut disampaikannya saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (8/7/2026).
Suhartono memberikan apresiasi tinggi terhadap performa aplikasi sistem pendaftaran tahun ini. Salah satu terobosan signifikan terlihat pada jalur afirmasi yang kini telah terintegrasi langsung dengan data Dinas Sosial (Dinsos).
“Sistem baru ini secara otomatis memunculkan data Desil 1, 2, 3, dan 4 sebagai skala prioritas utama. Jika kuota masih tersedia dan kategori tersebut sudah terpenuhi, seleksi baru akan berlanjut ke desil berikutnya. Alhamdulillah, seluruh mekanisme SPMB 2026/2027 berjalan dengan sangat baik,” ujar Suhartono.
Ia menambahkan bahwa penyusunan juknis tidak hanya digodok oleh Dinas Pendidikan semata, melainkan melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan perwakilan satuan pendidikan. Keterlibatan multipihak ini bertujuan untuk melahirkan kebijakan yang objektif, transparan, dan seragam di seluruh SMP Negeri se-KBB.
“Tahap satu untuk jalur domisili dan tahap dua semuanya berjalan lancar. Kami berharap ke depan pelayanan dan pemahaman masyarakat mengenai sistem SPMB ini terus meningkat,” imbuhnya.
Suhartono juga meluruskan kesalahpahaman yang sempat memicu keramaian di tengah masyarakat terkait nomor validasi yang dianggap sebagai nomor urut peringkat (ranking).
“Nomor tersebut murni urutan validasi berkas, bukan ranking kelulusan. Pihak Dinas maupun sekolah telah bergerak cepat memberikan edukasi detail agar masyarakat tidak salah paham,” tegasnya.
Terkait isu miring mengenai adanya praktik “titipan” siswa, Suhartono menegaskan hal itu sudah tidak berlaku lagi berkat sistem seleksi yang sepenuhnya berbasis digital. Saat ini, dari total satuan pendidikan di Bandung Barat, terdapat 67 SMP Negeri dan sekitar 138 SMP Swasta.
“Tidak ada lagi istilah siswa titipan. Pendaftaran diproses secara otomatis oleh sistem aplikasi berdasarkan data yang diinput oleh guru atau orang tua. Kami di sekolah hanya bertugas memvalidasi data dokumen. Jadi, yang meloloskan siswa adalah sistem, bukan panitia sekolah,” paparnya.
Ia menjamin pihak sekolah tidak memiliki akses atau wewenang untuk mengubah hasil seleksi, sehingga potensi kecurangan dapat ditekan seminimal mungkin.
Kepada para orang tua yang putra-putrinya belum berhasil lolos ke SMP Negeri, Suhartono mengimbau agar tidak berkecil hati. Ia menekankan bahwa kualitas pendidikan di sekolah swasta saat ini tidak kalah bersaing, terlebih kedua sektor sama-sama menerima dukungan bantuan dari pemerintah.
Sekolah Swasta Berwawasan Unggul: Sekolah swasta bonafide dengan reputasi tinggi, akreditasi unggul, dan fasilitas lengkap seperti Al-Azhar atau Nurul Fikri umumnya bahkan sudah memenuhi kuota siswa mereka sebelum masa SPMB dimulai.
Motivasi untuk Sekolah Swasta Berkembang: Bagi sekolah swasta yang masih berjuang menjaring siswa, Suhartono menyarankan untuk fokus mendongkrak mutu akademik dan non-akademik sebagai daya tarik utama bagi orang tua murid.
“Yang paling utama adalah anak-anak jangan sampai putus sekolah dan tetap mendapatkan hak pendidikannya. Banyak SMP swasta yang memiliki tenaga pendidik kompeten dan menorehkan prestasi membanggakan,” tuturnya.
Menutup perbincangan, Ketua MKKS KBB ini berharap keberhasilan SPMB tahun ini dapat dipertahankan dan terus disempurnakan di masa mendatang tanpa dicoreng oleh oknum yang mencoba melanggar regulasi.
“Kunci kelancaran ke depan adalah memperluas jangkauan sosialisasi sejak dini kepada orang tua dan masyarakat mengenai aturan, mekanisme, hingga tahapan pendaftaran. Dengan pemahaman yang utuh, proses SPMB ke depan akan selalu berjalan dengan tertib, aman, dan kondusif,” pungkasnya. (NAGON)
