Jakarta, hariandialog.co.id.- — Warga Malaysia memutuskan untuk
memboikot sejumlah produk Indonesia imbas kabut asap yang menyelimuti
negara itu menyusul kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di
Indonesia.
Salah satunya adalah Hasnah AS. Dia sudah bertahun-tahun
mengonsumsi produk Indonesia seperti Indocafe, teh manis Sosro, dan
santan Kara untuk memasak tetapi kini memilih berhenti. “Saya yakin
produk buatan Malaysia sama bagusnya,” kata dia, dikutip The Straits
Times, Senin (26/10/2026).
Bagi Hasna boikot ini bukan cuma soal kabut asap tetapi juga
respons terkait hinaan di media sosial dan komentar Kepala Badan
Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan yang menyebut
Malaysia mendapat oksigen dari hutan Indonesia. “Jika kita tak memberi
mereka pelajaran, mereka tak akan berhenti,” imbuh Hasna.
Sikap Hasna mencerminkan rasa frustrasi warga Malaysia karena
kabut asap yang tak kunjung hilang.
Salah satu warga Malaysia pengguna Facebook, Salbiah Ahamand,
juga berencana beralih dari produk santan asal RI dengan meminta
rekomendasi netizen soal produk lokal Malaysia. Unggahan dia menuai
lebih dari 400 komentar.
Banyak di antara mereka yang menyarankan menggunakan merek
lokal seperti Saji atau Rasaku.
Unggahan itu juga panen komentar bahkan ada salah satu netizen
yang secara terang-terangan menyerukan boikot. “Boikot saja mereka.
Mereka nyaman-nyaman saja mengihina kita dengan lelucon oksigen,” kata
dia.
Namun, memboikot produk Indonesia tak akan menyelesaikan kabut
asap. Ekonom Barjoyai Bardai memandang boikot itu bahkan bisa
merugikan kedua negara. Perdagangan bilateral Indonesia-Malaysia tahun
lalu mencapai US$26,6 miliar atau sekitar Rp482,2 triliun.
Barjoyai mengatakan boikot ke perusahaan-perusahaan yang
secara kredibel terkait dengan kebakaran hutan akan lebih efektif.
Namun, dia mencatat tindakan itu hanya sebagai bagian tekanan yang
lebih luas dari lembaga keuangan, penegakan hukum, dan diplomatik.
“Tujuan sebenarnya seharusnya bukan untuk memboikot Indonesia sebagai
negara, tetapi untuk membuat pembakaran hutan menjadi tidak menarik
secara ekonomi dan akuntabilitas perusahaan jadi tak terhindarkan,”
ungkap dia, tulis cnni. (anara-01)
