Jogja, hariandialog.co.id.– Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas di Jogja dan elemen masyarakat memadati kawasan Titik Nol Jogja sore ini. Mereka menggelar aksi dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026.
Pantauan detikJogja sore ini pukul 17.00 WIB, masa aksi kompak mengenakan pakaian serba hitam. Mereka membawa spanduk bertulisan aspirasi yang ditujukan ke pemerintah terkait sejumlah isu.
Suasana aksi berlangsung kondusif. Massa aksi silih berganti menyampaikan aspirasi dengan tertib.
Dosen Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar alias Uceng, menilai keresahan anak muda terhadap kondisi negara perlu disuarakan. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan Indonesia menuju 2045. “Masa depan kita itu milik anak muda. Indonesia apa, cemas atau emas di 2045, itu bukan milik saya barangkali atau milik kita-kita yang sudah tua. Dia milik anak muda,” kata Uceng di sela aksi, Rabu (28/10/2026).
Uceng menyatakan, keresahan tersebut perlu disuarakan melalui gerakan anak muda. Momentum Sumpah Pemuda, menurutnya, juga harus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk memikirkan masa depan dan memperjuangkan perubahan. “Nah, makanya saya kira keresahan itulah yang harus diteriakkan oleh anak muda dan mereka harus turun ke jalan, negara. Sumpah pemuda hari ini mereka harus bersumpah pula. Sumpah pemuda hari ini mereka harus pikirkan apa yang terbaik untuk mereka. Makanya wajar kalau kemudian mereka marah,” ujarnya.
Meski demikian, Uceng menekankan pentingnya menyatukan keresahan tersebut menjadi gerakan bersama. “Makanya saya kira Sumpah Pemuda Indonesia tagihannya untuk anak muda sekarang adalah bahasa persatuan menghilangkan sekat-sekat itu. Sekat-sekat yang kemudian merusak dan membuat kita tidak bisa melakukan kontrol yang memadai terhadap kekuasaan yang pongah,” tuturnya.
Uceng juga menilai gelombang demonstrasi perlu semakin besar untuk menunjukkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Dia menegaskan kekuasaan tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat.
“Saya kira harus lebih besar dan semakin membesar. Harus semakin membesar, kenapa? Karena harus kita tunjukkan bahwa kita masih punya apa, kedaulatan itu di tangan kita. Kedaulatan itu tidak pernah pindah, teman-teman. Kita sebenarnya yang berdaulat dan kita harus sampaikan itu. Kekuasaan tidak boleh pongah di hadapan kita yang berdaulat itu,” katanya, tulis dtc. (mul-01)
