Jakarta, hariandialog.co.id.- PT Timah Tbk (TINS) terus mengawal
penyelesaian proyek pembangunan smelter pemurnian timah berteknologi
TSL Ausmelt Furnace.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS, Wibisono
mengatakan, aktivitas proyek TSL Ausmelt pada tahun ini difokuskan
pada penyelesaian konstruksi sipil serta instalasi peralatan utama dan
peralatan pendukung.
Proyek TSL-Ausmelt adalah proyek multiyears yang dimulai
pembangunannya pada awal tahun 2020 dan direncanakan selesai sesuai
jadwal pada awal tahun 2022,” kata Wibisono kepada Kontan.co.id, baru
baru ini.
Mengutip materi paparan publik perusahaan pada 28 Agustus
2020 lalu, smelter dengan teknologi TSL Ausmelt ini memiliki kapasitas
peleburan sebesar 40.000 ton crude tin per tahun. Nilai investasi
dari proyek ini US$ 80 juta. Kalau sudah beroperasi komersial,
fasilitas smelter ini berpotensi menghasilkan EBITDA US$ 126,31 juta
per tahunnya.
Di sisi lain, pengopersian tanur alias tempat pembakaran
(furnace) dari TSL Ausmelt juga diperkirakan bisa memberikan dampak
terhadap optimalisasi biaya produksi logam, sebab TSL Ausmelt dapat
mengolah konsentrat dengan kadar Sn lebih rendah.
Selagi penyelesaian proyek TSL Ausmelt berjalan, saat ini
TINS mengoperasikan tanur tetap (reverberatory furnace) yang ada di
Muntok, Bangka Barat. Tanur tetap tersebut memiliki kapasitas kurang
lebih 30.000 metrik ton per tahun.
Wibisono tidak merinci berapa dana yang TINS siapkan untuk
membiayai penyelesaian proyek TSL Ausmelt pada tahun ini. Yang terang,
dananya bakal memanfaatkan sebagian dari anggaran belanja modal atawa
capital expenditure (capex) TINS pada tahun ini.
Asal tahu, tahun ini TINS menganggarkan capex sebesar Rp
1,9 triliun. Anggaran capex tersebut dialokasikan untuk rekondisi
peralatan produksi dan sarana pendukung, pembesaran kapasitas
Produksi, pengembangan usaha, serta sarana dan prasarana umum. (diah).
