Jakarta, hariandialog.co.id.- — Akademisi Universitas Sumatera Utara
(USU) Wahyu Ario Pratomo meminta agar pemulihan pascabencana tidak
hanya dilihat dari pembangunan fisik.
Menurut dia, pemerintah perlu melihat apakah masyarakat sudah
benar-benar dapat menjalani kehidupan secara normal. “Ukuran
keberhasilan pemulihan tidak boleh berhenti pada berapa rumah yang
selesai dibangun atau berapa kilometer jalan yang telah diperbaiki,”
kata Wahyu kepada wartawan, Senin (7/9/2026).
Di sejumlah lokasi, kata dia, proses pemulihan terlihat
sudah berjalan. Misalnya di Aek Parombunan misalnya, sebagian hunian
tetap telah diserahterimakan kepada warga, sedangkan pembangunan unit
lainnya masih berlangsung.
Sementara di Tapanuli Selatan, sambung dia, pemerintah juga
terus mendorong percepatan hunian permanen bagi masyarakat yang masih
berada dalam masa transisi.
Disampaikan Wahyu, penekanan Wapres agar pemulihan menyentuh
pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi masyarakat merupakan arah
yang tepat.
Ia menilai hunian baru harus dibarengi dengan tersedianya
layanan dasar dan sumber penghidupan warga, seperti air bersih,
sanitasi, listrik, sekolah, fasilitas kesehatan, transportasi,
pekerjaan, dan pusat kegiatan ekonomi. “Kalau rumah selesai tetapi
warga kehilangan sumber penghidupan, maka secara substantif proses
pemulihan belum selesai,” ujarnya, tulis cnni. (alfin-01)
