Bekasi, hariandialog.co.id.- Warga RW 013 Blok E Soko Kuning,
Bekasi, mengadakan rapat yang dihadiri masing-masing utusan dari Rukun
Tetangga (RT), juga hadir Ketua BKM, Ketua RW, penanggungjawab
keamanan & lingkungan H. Darwin Hutabarat, Ketua PKK, pegiat Eco
Enzim, Universitas Pertamina.
Pertemuan yang diawali paparan terkait berdirinya Bio Gas
dan Bio Floq dan dilanjutkan sosialisasi dari Posyantek di lingkungan
warga di RW 013 Blok E Soko Kuning, Bekasi, Jawa Barat. Tujuan
pertemuan guna menyatukan pandangan akan kehadiran project Bio Gas dan
Bio Floq.
Memang awalnya ada yang setuju dan tidak setuju akan
kehadiran project tersebut untuk pengelolaan limbah menjadi bio gas
oleh Universitas Pertamina. Sebab, program project untuk mengedukasi
sampah Masyarakat jadi berguna dan bisa menghasilkan gas yang
bermanfaat. Harapan kalua berhasil project tersebut akan bisa
dihadirkan di lingkungan Rukun Warga (RW) lainnya.
Sebenarnya, terkait dengan kehadiran project tersebut
ditempatkan di lahan kosong yang selama ini tidak tertata hampir kumuh
dan ini yang dimanfaatkan oleh Posyantek dan ini sebagaimana pada
Perda No.5 tahun 2021 dimana Fasilitas Umum (Fasum) dapat digunakan
untuk kepentingan Masyarakat luas.
Terjawab juga bahwa MoU atau penandantangan Kerjasama
antara warga dengan Pertamina sudah disosialisasikan kepada para warga
melalui RT dan RW. Untuk itu, Masyarakat tidak keberatan karena lahan
untuk Bio Gas hanya 56 meter dan bila berhasil nantinya ada rupiah
dapat dinikmati oleh warga.
Terkait keamanan, terungkap bahwa Bio Gas menggunakan
generator gas yang dapat mengolah sisa sisa makanan, limbah lainnya
dan menggunakan pipa PVC yang tidak mudah bocor. Bio Gas yang
dihadirkan ramah lingkungan dan berbeda dengan gas lainnya, tidak
cepat memercikkan api, presentase hanya 0,5 persen untuk dapat
langsung meledak. Bila ada kebocoran maka jika dimatikan cepat mati.
“Jadi kekwatiran warga terjawab atas pertemua tersebut,” jawab atas
pertanyaan dari H. Djumiran warga RT 008.
Sementara itu, menjawab pertanyaan Agung, waga RT 007,
bahwa program akan berjalan baik tanpa ada hambatan jika
dikomunikasikan dengan baik. “Bila dimunikasikan dengan baik maka
hasilnya akan baik,” terjawab di acara tersebut.
Memang, kehadiran project tersebut disebagian warga kurang
spendapat apalagi yang rumah tempat tinggalnya berdekatan dengan
lahan Lokasi tempat, hal ini terkait keamanan. “Yah dipahami akan
kebocoran dan pengawasan serta kungkinan yang akan terjadi buat warga
yang ada disekitar Lokasi,”ungkap warga.
H. Hutabarat menyatakan selama ini sepertinya ada miss
komunikasi dari tim Posyantek dengan warga. Untuk itu diharapkan agar
kumunikasi dimasa mendatang dapat ditingkatkan guna penghijauan di
wilayah Blok SOKA Kuning dapat berjalan, lahan dan pohon jika
dibutuhkan. Terkait Fasos Fasum untuk UMKM hanya temporary jika
mayoritas warga tidak setuju dapat dipindahkan.
Terungkap diakhir pertemuan pada, Minggu, 21 Desember
2025, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 yang mengambil tempat di Aula /
Pendopo Sekretariat RW 013 Blok Soka Kuning, jika tidak setuju maka
tim siap untuk dibongkar dan dipindahkan ke tempat lain. Dan
pemanfaatan lahan untuk proyek program Bio Gas dan Bio Floq karena
selama ini tidak terurus dan terbengkalai dan bila warga mengurusinya
biayanya cukup besar.
Namun, kesimpulan Sebagian warga RT 007 khususnya S
Pelawi dan Made serta peserta lainnya yang hanya berbisik bisik
menolak keberadaan posyantek tersebut. Sehingga sepertinya ada suara
bulat akan posyantek harus dibongkar dan dipindahkan. “Itu urusan
mereka mau dipindahkan. Yang jelas harus dibongkar,” bisik-bisiknya
dan berharap PT Pertamina mengakomodir pembongkaran dan pemindahan
proyek Posyantek tersebut. (ris/tob)
