Medan, hariandialog. Co. Id.- Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara terus berkolaborasi dan berkomitmen untuk mengenalkan Keuangan Digital secara Inklusif kepada masyarakat yang di sertai dengan peningkatan Literasi Keuangan di masyarakat khususnya di Wilayah Sumatera Utara. Dimana digitalisasi telah menyentuh berbagai aspek kehidupan, termasuk pada aspek keuangan dan sistem pembayaran secara umum.
Hal tersebut di sampaikan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara IGP Wira Kusuma dalam siaran Persnya sabtu (26/8/2023) di Medan.
Wira Kusuma mengungkapkan bahwa Bank Indonesia mencatat nilai transaksi uang elektronik Nasional meningkat 14,82%(yoy) sehingga mencapai Rp.111,35 triliun di triwulan II-2023, sementara nilai transaksi digital banking tercatat sebesar
Rp.12.852 triliun atau tumbuh 11,6% (yoy). Sejalan dengan hal ini, transaksi Quick Response Code Indonesian Standart (QRIS) juga menunjukan pertumbuhan yang signifikan.
Tercatat merchant QRIS s.d Juni 2023 secara nasional sebanyak 26,7 juta merchant, dengan jumlah pengguna sebanyak 37 juta pengguna. Transaksi QRIS di Tw II-2023 tumbuh 104,64%(yoy) dengan nilai nominal sebesar Rp.49,65 triliun. Sejalan dengan kondisi nasional, perluasan QRIS di Sumatera Utara juga berjalan dengan baik dan terus terakselerasi sejalan dengan akseptansi masyarakat.
Jumlah merchant QRIS di Sumatera Utara hingga triwulan II 2023 telah mencapai 1,02 juta merchant yang di dominasi oleh merchant usaha mikro (63,06%), dengan total transaksi mencapai Rp.4,91 triliun dan telah digunakan oleh 1,7 juta pengguna. Peran Bank Indonesia Dalam Mendorong Akselerasi Digitalisasi.
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan sistem pembayaran di Indonesia, akan terus mendorong perluasan digitalisasi dan memperkuat sistem pembayaran yang semakin CEMUMAH (Cepat,
Mudah, Murah, Aman, dan Andal). Dan Bank Indonesia juga telah menerbitkan Blueprint Sistem Pembayaran 2025 (BSPI 2025) yang menjadi guidance dalam pengembangan ekonomi digital di Indonesia.
Berdasarkan Survei Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2022 oleh OJK, masih terdapat gap sebesar 43,89% antara indeks literasi dan inklusi keuangan di Sumatera Utara. Indeks literasi keuangan hanya sebesar 51,69% sementara indeks inklusi keuangan telah mencapai 95,58%. Kondisi tersebut tentunya menjadi perhatian kita bersama, untuk dapat terus mendorong perluasan edukasi keuangan digital.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, diperlukan sinergi yang kuat dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat & daerah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyelenggara jasa pembayaran (bank maupun non bank), serta institusi pendidikan dan akademisi yang memiliki peran penting dalam edukasi keuangan kepada masyarakat.
Tidak hanya e-learning dan e-payment
yang telah diimplementasikan, inovasi dan pemanfaatan pembayaran non tunai untuk Endowment Fund yang hari ini akan di launching, dan diharapkan menjadi langkah pendukung untuk mewujudkan cita – cita Universitas Sumatera Utara sebagai World Class University.
Kepala Bank Indonesia IGP Wira Kusuma juga berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, dan tentunya dapat mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mewujudkan masyarakat Kota Medan yang terliterasi digital dengan baik.(ss).
