
Cirebon, hariandialog.co.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat terus memantau siaga, atas kebutuhan air bersih, akibat kekeringan yang berpotensi meluas di Kabupaten Cirebon selama musim kemarau 2026.
Kepala Pelaksana (Plt) BPBD Kabupaten Cirebon Syamsul Huda, kepada wartawan mengatakan, saat kita telah menyiapkan armada dan sarana penampungan air, merespons laporan masyarakat atas kekurangan air bersih.
” Menghadapi kemarau yang panjang, kami sudah menyiapkan mobil tangki dan toren juga terus memantau lokasi rawan kekeringan di 40 kecamatan,” ungkap Syamsul diruangannya. Senin,(10/8/26)
“Sekarang ini kita telah memetakan sembilan desa rawan kekeringan berdasarkan evaluasi kejadian kurun waktu tiga tahun terakhir, serta pemerintah kabupaten telah menetapkan status “Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran Lahan” sejak awal Juli hingga 30 September ke depan.
“Sembilan desa yang di sebut yakni Desa Walahar dan Cupang di Kecamatan Gempol, Slangit dan Kreo di Kecamatan Klangenan, Mundu Mesigit, Banjarwangunan dan Pamengkang di Kecamatan Mundu, Winduhaji di Kecamatan Sedong, serta Kamarang di Kecamatan Greged.”ungkapnya.
Syamsul menjelaskan, saat ini ada 3 desa yang melaporkan resmi mengenai kebutuhan air bersih, yaitu desa slangit Kec.klangenan, desa sampiran di Kecamatan mundu dan desa winduhaji di Kecamatan sedong, BPBD merespon cepat laporan tersebut.
“Kami terus menyampaikan imbauan kepada warga , pemerintah desa dan kecamatan agar segera melapor jika mulai mengalami kekurangan air, sehingga kebutuhan air bersih dapat segera ditangani,” ujarnya.
Mendukung penanganan kekurangan air bersih, BPBD menyiagakan satu mobil tangki dengan kapasitas 4.000 liter dan menyediakan toren yang dapat dipinjamkan kepada desa, sebagai tempat penampungan sementara, sedangkan penanganan kekeringan di lahan pertanian, itu menjadi kewenangan dinas pertanian.” pungkas Syamsul.(budhi)
