
Bandung Barat, hariandialog co.id -Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat (KBB) mendorong penguatan pembinaan atlet pelajar sejak usia sekolah sebagai langkah strategis untuk meningkatkan prestasi pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Provinsi Jawa Barat maupun tingkat nasional.
Analis Kebijakan Sub Koordinator Kesiswaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, Popi Siti Ichsanniaty, mengatakan potensi atlet pelajar di daerah tersebut cukup menjanjikan. Namun, keterbatasan pembinaan dan dukungan terhadap atlet masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.( 15/07/2026)
“Di kami memang kekurangannya itu memang di pembinaannya memang tidak ada. Jadi untuk support untuk atlet memang kurang. Mudah-mudahan ke depan nya bisa direalisasikan apa yang menjadi kebutuhan atlet sehingga bisa membawa harum nama Kabupaten Bandung Barat di kancah provinsi maupun nasional,” kata Popi saat ditemui di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.
Menurut Popi, pada pelaksanaan O2SN Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026, kontingen jenjang Sekolah Dasar dari Kabupaten Bandung Barat mampu mempersembahkan satu medali perunggu pada cabang atletik. Selain itu, atlet pencak silat juga hampir menembus tiga besar, namun akhirnya berada di peringkat keempat dengan selisih hasil yang sangat tipis.
Ia menjelaskan persaingan pada O2SN tahun ini semakin kompetitif karena hanya atlet yang meraih juara pertama, kedua, dan ketiga yang memperoleh kesempatan untuk diakomodasi pada tahapan berikutnya. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya yang masih memberikan penghargaan hingga kategori harapan. “Kalau sebelumnya sampai harapan satu, harapan dua, dan harapan tiga. Sekarang yang diakomodir hanya juara satu, dua, dan tiga. Jadi peluangnya makin sedikit,” ujarnya.
Popi berharap kebijakan tersebut dapat kembali dievaluasi pada penyelenggaraan berikutnya sehingga atlet yang mampu bersaing hingga posisi empat besar tetap memperoleh ruang apresiasi sebagai bentuk motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan. Terkait dukungan dari pemerintah daerah, Popi menjelaskan bahwa Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat masih memfasilitasi kebutuhan atlet pada saat pelaksanaan kegiatan. Sementara proses latihan dan pembinaan rutin masih banyak dilakukan oleh sekolah maupun pihak lain sesuai kemampuan masing-masing.
“Kami hanya menyediakan pada saat pelaksanaannya saja karena anggarannya terbatas. Untuk yang lainnya memang kami serahkan ke sekolah,” katanya. Menurut dia, pembinaan atlet tidak dapat dilakukan secara instan menjelang perlombaan. Proses tersebut membutuhkan kesinambungan mulai dari pencarian bibit atlet, latihan yang terprogram, hingga regenerasi yang berjalan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Karena itu, Popi menilai keberadaan kegiatan ekstrakurikuler olahraga perlu terus diperkuat. Ia mencontohkan cabang olahraga pencak silat yang dinilai memiliki potensi besar, tetapi belum tersedia di seluruh sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
Selain pencak silat, cabang olahraga seperti bulu tangkis dan renang juga umumnya berkembang melalui klub atau sanggar di luar sekolah. Kondisi tersebut menyebabkan tidak semua peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya karena harus mengikuti pembinaan secara mandiri.
“Kalau bisa olahraga yang bersifat tradisional seperti pencak silat itu diwajibkan. Jadi bisa menambah regenerasi. Karena kalau di komunitas atau sanggar biayanya lumayan mahal. Bulutangkis dan renang juga rata-rata berkembang melalui klub,” ujarnya.
Ia menambahkan pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga harus memberikan ruang bagi pengembangan minat dan bakat di bidang non Akademik. Prestasi olahraga, kata dia, dapat menjadi salah satu jalur bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi.
“Pendidikan itu tidak hanya di sekolah, tetapi di luar sekolah juga harus dikembangkan. Minat bakat anak tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga non Akademik. Itu bisa membantu mereka masuk ke jenjang sekolah berikutnya melalui jalur prestasi,” katanya.Berdasarkan hasil O2SN Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026, Kabupaten Bandung Barat memperoleh satu medali perunggu pada jenjang Sekolah Dasar. Sementara pada jenjang Sekolah Menengah Pertama, kontingen Kabupaten Bandung Barat meraih satu medali perak dan satu medali perunggu.
Hasil tersebut masih berada di bawah sejumlah kabupaten dan kota lain di Jawa Barat yang mendominasi perolehan medali.Meski demikian, capaian itu menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat untuk memperkuat sistem pembinaan atlet pelajar melalui peningkatan dukungan latihan, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler olahraga, serta kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, orang tua, dan komunitas olahraga.
Melalui langkah tersebut, Dinas Pendidikan berharap semakin banyak atlet pelajar asal Kabupaten Bandung Barat yang mampu bersaing dan meraih prestasi pada tingkat provinsi maupun nasional, sekaligus menjadi bagian dari pengembangan sumber daya manusia yang unggul di bidang olahraga.( Nagon )
