Tabanan – Bali–hariandialog.co.id-
Desa Wisata Jatiluwih, diakui dunia karena keindahan sawah terasering Subak sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, di Undang Bank Indonesia dalam acara Capacity Building Kamis ( 3/10 ) di Nusa Dua.
” Undangan ini sebuah pengakuan nyata kerja keras dan konsistensi menjaga kualitas, keaslian, dan manajemen yang berkelanjutan di Jatiluwih,” ujar John Ketut Purna, Manajer DTW Jatiluwih.
Ia sangat bangga berada dalam barisan destinasi Unggulan Bali Serta Mendapat undangan eksklusif dari Bank Indonesia (BI) di wakili Ni Made Riant Indah Oktaviya sebagai Divisi Informasi dan promosi serta Ni Wayan Eka Sari sebagai Staff Informasi Promosi . “Kami di undang hadir Dalam acara Capacity Building Desa Wisata bertajuk “Transformasi Membangun Desa Wisata Digital” selama 2 hari di Hotel Marusaka Nusa Dua,.
Jhon mengungkapkan, kehadiran Jatiluwih menegaskan posisinya sebagai Destinasi unggulan yang Go International motor penggerak ekonomi lokal berbasis pariwisata maju.

Acara ini,kata Jhon bukanlah ajang bagi semua Destinasi wisata di Bali. Bank Indonesia secara selektif hanya mengundang 12 Destinasi pilihan yang dinilai matang, maju, dan memiliki rekam jejak internasional kuat. Selain Desa Wisata Jatiluwih, beberapa destinasi bergengsi lainnya meliputi Desa Wisata Penglipuran, Desa Wisata Pemuteran, Desa Wisata Mongkey Forest, Pantai Pandawa, Desa Wisata Undisan, Desa Wisata Less, Uluwatu, Desa Wisata Taro, Tampak Siring, Desa Wisata Sudaji, dan Desa Wisata Adat Dua.
Kriteria undangan menggaris bawahi komitmen BI berinvestasi pada potensi pariwisata paling siap dan mampu melakukan transformasi digital secara menyeluruh.
Fokus utama dari Capacity Building yakni percepatan transformasi digital sektor pariwisata. BI berupaya mendorong Desa wisata terpilih mengadopsi teknologi digital secara masif, mulai dari sistem pembayaran nontunai, manajemen operasional, hingga pemasaran global.
” Langkah ini penting meningkatkan efisiensi, memperluas jangkauan pasar pada akhirnya, memperkuat ketahanan ekonomi desa wisata di era digital,”. Keikutsertaan Jatiluwih, telah lama menjadi ikon sustainable tourism, diharapkan menjadi contoh nyata keberhasilan sinergi antara pelestarian budaya dan pemanfaatan teknologi modern,” jelas Jhon.
Ia menyebut Salah satu poin penting adalah inisiasi kerja sama strategis antara desa-desa wisata ini dengan platform pemesanan dan e-commerce ternama seperti Traveloka & Blibli . com Bank Indonesia memfasilitasi pertemuan dan kesepakatan mengajak Desa Wisata bekerja sama dengan Traveloka untuk pasar Asia, Eropa, dan Jepang, serta Blibli . com untuk pasar Domestik.
Kemitraan ini bertujuan memotong rantai distribusi panjang, memberikan akses langsung kepada wisatawan global, dan mempromosikan produk serta paket wisata desa secara profesional dan terukur melalui platform bergengsi.
” Kolaborasi dengan Traveloka secara spesifik menargetkan perluasan pasar ke ranah internasional, khususnya Asia, Eropa, dan Jepang, di mana permintaan terhadap wisata budaya dan alam yang berkelanjutan sangat tinggi,” papar Jhon.
Sementara itu, kerja sama dengan Blibli. Com difokuskan menggarap potensi pasar Domestik yang besar. Sinergi antara promosi global dan Domestik ini diharapkan dapat menciptakan stabilitas kunjungan dan pendapatan yang berkelanjutan bagi Desa Wisata Jatiluwih dan Destinasi lainnya, menjadikannya model keberhasilan ekonomi kerakyatan berbasis pariwisata digital.
Undangan ini secara implisit merupakan pengakuan terhadap kemajuan Desa Wisata Jatiluwih dalam mengelola warisan budaya sambil merangkul modernitas.
Partisipasi aktif dalam program ini memperkuat langkah Jatiluwih menuju predikat Smart Village atau Desa Wisata Digital, tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman bertransaksi dan berinteraksi mulus dan terintegrasi secara digital.
“Diharapkan, ilmu dan kemitraan yang diperoleh dari Capacity Building ini akan segera diimplementasikan untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing Jatiluwih di kancah pariwisata dunia” tutup Jhon (*/ NL )
