Jakarta, hariandialog.co.id.- Perang besar yang dilancarkan Amerika
Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran bukan hanya merenggut korban
jiwa, tetapi juga menyebabkan pemborosan dana dalam jumlah yang sangat
besar.
Pada 28 Februari 2026, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi
melalui video di platform Truth Social bahwa AS telah terlibat dalam
“operasi tempur besar” di Iran, yang dinamakan Operasi Epic Fury.
Tujuan utama dari operasi ini adalah untuk memastikan bahwa
Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir, serta untuk
menghancurkan infrastruktur rudal mereka.
Sejak dimulai pada hari Sabtu, lebih dari 1.250 target di Iran telah
dihancurkan, termasuk fasilitas nuklir dan fasilitas militer utama.
Serangan ini melibatkan berbagai sistem senjata canggih
dari AS dan Israel, mulai dari pesawat pembom B-1 dan B-2, jet tempur
F-35 dan F-22, hingga pesawat perang elektronik EA-18G Growler.
Selain itu, sistem pertahanan rudal seperti Patriot dan
THAAD juga dikerahkan untuk menghadang serangan balik dari Iran.
Buntut serangan yang dilakukan AS dan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran,
Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas akibat serangan terhadap
kediamannya. Hingga Senin, jumlah korban tewas di Iran telah mencapai
555 orang, menurut Bulan Sabit Merah Iran.
Estimasi Biaya Perang: Rp 109 Miliar per Hari
Akan tetapi serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran
tidak hanya mengakibatkan korban jiwa, tetapi juga menimbulkan
pemborosan dana yang sangat besar.
Biaya operasional dari kampanye militer ini diperkirakan mencapai
miliaran dolar AS. Pengeluaran tersebut mencakup biaya senjata,
peralatan militer, dan juga pengeluaran untuk mendukung pasukan yang
terlibat dalam konflik.
Selain itu, penggunaan persenjataan canggih yang intensif turut
meningkatkan potensi pemborosan sumber daya negara.
Biaya yang dikeluarkan AS untuk mendukung perang ini sangat tinggi.
Menurut laporan yang dikutip dari Al Jazeera, total pengeluaran AS
terkait operasi ini diperkirakan mencapai antara 31,35 miliar dolar AS
hingga 33,77 miliar dolar AS sejak dimulai pada Oktober 2023.
Untuk Operasi Epic Fury, diperkirakan AS menghabiskan
sekitar 779 juta dolar AS hanya dalam 24 jam pertama, dengan biaya
tambahan sebesar 630 juta dolar AS untuk logistik dan mobilisasi
pasukan.
Sementara biaya operasional harian sebuah kapal induk seperti USS
Gerald R. Ford diperkirakan sekitar 6,5 juta dolar AS, sedangkan
serangan menggunakan rudal Tomahawk bisa menelan biaya hingga 1-2 juta
dolar AS per unit.
Jika operasi ini berlanjut dengan intensitas tinggi, AS bisa
menghabiskan sekitar Rp 109 miliar per hari untuk mendanai operasi
militer di kawasan Timur Tengah.
Masalah Persediaan Senjata: Risiko Bagi AS
Meskipun AS memiliki anggaran pertahanan yang besar, para analis
memperingatkan bahwa persediaan senjata canggih terutama rudal
pencegat seperti Patriot dan THAAD adalah titik lemah yang berpotensi
mengancam keberlanjutan operasi, tulis tribune. (keano-01)
