Jakarta, hariandialog.co.id.- Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
(PN Jakpus) Dr Husnul Khotimah mencontohkan reformasi Mahkamah Agung
(MA) tentang kesederhanaan. Hal itu disampaikan saat mengikuti
Pendidikan Lemhanas Pendidikan Pemantapan Pimpinan Tingkat Nasional
(P3N) Angkatan XXVI.
Saat itu, pemateri berasal dari KPK. Dr Husnul Khotimah dalam sesi
diskusi lalu bertukar pengalaman bila lembaga yudikatif Indonesia
sudah melakukan reformasi nyata.
“Yang kedua adalah, saya yang bercerita, Pak. Saya termasuk orang yang
percaya bahwa ikan itu busuk dari kepalanya,” kata Dr Husnul Khotimah
dalam video yang didapat DANDAPALA, Rabu (15/10/2025).
“Karena apa? Saya berbicara begini karena kita semua seorang
pemimpin,” sambung Dr Husnul Khotimah.
Filosofi ini menempatkan tanggung jawab utama pada pemimpin. Jika
pemimpin korup, maka korupsi akan menjalar ke seluruh tubuh
organisasi. Sebaliknya, jika pemimpin berintegritas, ia akan menjadi
benteng pertahanan pertama terhadap korupsi.
Dr Husnul Khotimah melanjutkan dengan contoh konkret dari reformasi MA.
“Ketua Mahkamah Agung itu telah memberikan reformasi yang luar biasa.
Jadi pada saat pimpinan Mahkamah Agung atau yang berada di atasnya itu
turun ke daerah, jangan coba-coba itu saat ke daerah mengeluarkan
sedikit pun. Karena pimpinannya pasti akan didemosi,” beber mantan
Ketua PN Balikpapan itu.
Dr Husnul Khotimah lalu mengajak para peserta Lemhanas terbuka dan
jujur saat menerima pimpinan ke daerah. Para pemimpin di daerah harus
menyiapkan protokoler, acara, penginapan hingga oleh-oleh/buah tangan
untuk menjamu pimpinan dari Pusat. Kebiasaan itu kini telah dihapus
total dari lingkungan MA. “Bapak-Ibu ngalamin kan? Ngalamin. Pusing
nggak ke bawah? Pusing,” kata beliau dengan nada empatis namun tegas.
Kebijakan tegas ini bukan sekadar ancaman kosong. Ia adalah
implementasi nyata dari prinsip ‘zero tolerance’ terhadap pelanggaran
yang telah menjadi komitmen MA dalam Rencana Strategis 2025-2029.
Sebagaimana diketahui, sejak hakim agung Prof Sunarto bersumpah
menjadi Ketua MA, ia membuat perubahan besar di internal pengadilan.
Prof Sunarto memberikan contoh nyata tentang kesederhanaan dan
pemimpin yang tidak dilayani, tapi pemimpin yang melayani. Di
antaranya rombongan pimpinan MA menggunakan kendaraan HIACE, tidak
menerima protokoler berlebihan saat kunjungan ke daerah dan tidak
menerima buah tangan dari bawahan. Hal itu juga berlaku bagi pimpinan
MA, hakim agung dan pejabat Eselon saat kunjungan ke daerah.
Gaya hidup Prof Sunarto pun mencerminkan kesederhanan nyata tapi tetap
berwibawa. Seperti menggunakan sepatu nonbranded butik kenamaan,
menghindari olahraga yang luxury, hingga menggunakan jalur ruang
tunggu penumpang umum saat kunjungan ke daerah, tulis danapala.
(tob-01)
