Semarang, hariandialog.co.id.- Para siswa SD Negeri Pendrikan Lor 02 Kota Semarang, khususnya mereka kelas 2B, menikmati MBG dibawah plafon yang sudah lama ambrol, sehingga kelihatan kerangka penahan atap genteng.
Pemandangan tersebut bukan hal baru. Sejak 2 Maret lalu, langit-langit ruang kelas itu bolong karena tertimpa atap yang ambrol akibat hujan deras disertai angin kencang.
Saat itu, sekolah hanya memperbaiki reng dan genteng yang rusak, agar air hujan tak lagi masuk. Sementara plafon dibiarkan menganga hingga kini, hampir lima bulan berlalu.
Namun persoalannya ternyata bukan sekadar plafon yang bolong. Bangunan sekolah yang berdiri sejak 1950 itu memang telah menua. Rangka atapnya berupa kayu yang sudah lapuk, dengan bekas tambal sulam di beberapa bagiannya.
Di ruangan berbeda, tempat anak-anak kelas 2A belajar, kondisi plafon masih utuh. Namun, meski ruangan itu tampak lebih baik dibanding kelas di sebelahnya, rasa khawatir yang dirasakan guru maupun siswa tidak jauh berbeda. Sebab mereka tahu, yang rapuh bukan hanya plafonnya, melainkan rangka bangunan di atasnya.
Setiap kali hujan turun atau angin bertiup lebih kencang, kekhawatiran itu datang lagi. Tak ada yang bisa memastikan apakah langit-langit yang hari ini masih utuh akan tetap bertahan esok hari.
Tak hanya pada atap, kerusakan juga terlihat di bagian lain. Bisa dikatakan, bangunan tua tersebut dipaksa bertahan dengan segala keterbatasannya. Kusen pintu dan jendela tampak keropos dimakan rayap. Beberapa kayunya sudah habis, menyisakan rongga-rongga yang mudah hancur jika tergesek atau terkena benturan.
Bahkan kusen pintu ruang kelas ada yang goyah saat tersentuh. Ada pula salah satu jendela rusak tanpa kaca dan sejumlah ventilasi bergaya boven yang rusak. Kondisi itu diakui Kepala SDN Pendrikan Lor 02 Semarang, Dwi Hartiningsih. Dia prihatin tetapi tak bisa berbuat banyak.”Iya banyak sih kerusakannya,” aku Dwi saat ditemui Selasa, 28 Jul 2026. (nanang-01)
