Sidoarjo, hariandialog.co.id.-
Kepolisian Resor Kota Sidoarjo menyelidiki penyebab santri diduga keracunan setelah memakan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 556 orang dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam dan beberapa orang di luar pesantren dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap MBG.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Jules Abraham Abast menyatakan tim dari Polresta Sidoarjo telah melakukan langkah penanganan dan pendalaman. “Tim Laboratorium Forensik Polri juga telah melakukan pemeriksaan,” kata Jules saat dikonfirmasi pada Rabu, 2 September 2026.
Polisi, kata dia, masih melakukan analisis. Menurut Jules apabila ada indikasi kelalaian yang mengakibatkan pelanggaran hukum maka polisi akan menindaklanjutinya.
Adapun korban keracunan diduga mengonsumsi makanan yang diolah di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo pada Selasa, 1 September 2026. Semula sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, mengalami keluhan yang diduga akibat keracunan. Data tersebut tercatat hingga Rabu, 2 September 2026 pukul 00.30 WIB.
Jumlah korban kemudian bertambah 135 orang yang tersebar di sejumlah rumah sakit dan menjalani rawat jalan di rumah. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan sebagian korban yang sempat dirawat telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. “Sampai saat ini masih ada 88 orang yang masih dirawat,” kata Lakhsmie kepada awak media.
Lakhsmie menjelaskan, para korban mengalami sejumlah gejala seperti pusing, mual, muntah, dan diare. Salah satu penanganan yang diberikan adalah rehidrasi untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.
Sementara itu, staf hubungan masyarakat Rumah Sakit Umum Daerah atan RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Rizqi Maulana, mengatakan sebagian pasien berasal dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Namun, terdapat pula pasien dari sejumlah sekolah lain di sekitar Kecamatan Tanggulangin. “Seperti SDN Kalitengah 1, SDN Kalitengah 2, dan SMP Tri Bakti,” kata Rizqi.
Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut. Ia mengatakan proses memasak makanan MBG dilakukan seperti biasanya.”Memasak pukul 00.00 WIB. Dikirim pukul 11.00 WIB. Masih batas aman karena dikonsumsi sebelum batas aman empat jam pengiriman,” ucap Rafli.
Rafli juga mengatakan makanan telah melalui proses pemeriksaan sebelum disajikan. Pemeriksaan tersebut, kata dia, turut melibatkan pihak sekolah dan pondok pesantren dengan mencicipi makanan sebelum dikonsumsi para siswa dan santri.
Para santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam menyantap menu MBG pada Selasa, 1 September 2026 sekitar pukul 12.00 WIB. Sekitar enam jam kemudian, yakni pukul 18.00 WIB, sejumlah santri mulai mengalami gejala seperti mual, muntah, dan diare, tulis tempo. (salim-01)
