Bogor, hariandialog.co.id.- – Prof. Dr. Ir. Sajogyo seorang pakar
sosiologi terkemuka yang dikenal secara luas sebagai ‘Bapak Sosiologi
Pedesaan Indonesia’, diwarnai tanya jawab.
Hal itu terungkap pada acara pembukaan bedah buku salah
seorang tokoh akademik Prof. Dr. Ir. Sajogyo yang melahirkan
sejumlah gagasan dalam pembangunan dan pengembangan desa di Indonesia,
berlangsung di IPB Dramaga Bogor, Selasa. baru-baru.
Prof. Sajogyo yang wafat pada tahun 2012 lalu, kini melalui
Sajogyo Institut, kembali ingin menghidupkan lagi gagasan tersebut.
Bahkan para pengelola yayasan, akan menjadikan pemikiran mantan Rektor
IPB University ini dalam tataran global melalui seminar dua hari yang
melibatkan pembicara dari berbagai negara.
Pemikiran Prof. Sajogyo yang dituangkan dalam empat buku ini,
menjadi peletak dasar ini seperti Koperasi Unit Desa, posyandu dan
lembaga desa yang saat ini dikenal. Bahkan gagasan almarhum tentang
perbaikan gizi keluarga yang dicetuskan tahun 1984 yang diluncurkan
lewat studi evaluasi program, kini diadopsi pemerintahan Prabowo
Subianto dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), walau metodenya
saja yang berbeda.
Doktor Ivanovich Agusta, penulis buku Prof. Sajogyo yang juga
kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB
University mengatakan, almarhum pernah mengemban amanah sebagai rektor
IPB pada periode tahun 1965-1966.
Doktor Ivanovich Agusta yang juga menjabat sebagai kepala
PSP3 IPB University menegaskan, Prof. Sajogyo merupakan salah satu
tokoh akademik yang sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu
sosiologi, isu agraria, serta penanggulangan kemiskinan di Indonesia.
“Poin-poin penting mengenai profil, kontribusi, dan warisan pemikiran
Prof. Sajogyo, sangat relevan di tengah perkembangan dunia saat ini
lewat teknologi. Almarhumah berpikir bagaimana gizi dari makanan yang
dimakan, bukan berapa piring yang dihabiskan,” kata Dr. Ivanovich,
kepada wartawan, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, Prof. Sajogyo yang lahir dengan nama Sri Kusumo
Kampto Utomo pada 21 Mei 1926 di Karanganyar, Jawa Tengah. Ia wafat
pada 17 Maret 2012. Karier almarhum di IPB, sangatlah gemilang.
Gagasannya tentang kedaulatan rakyat atas hak tanah serta bagaimana
pemenuhan gizi itu bagi petani, membuatnya menjadi salah satu pilar
utama di Institut Pertanian Bogor (IPB) University tulis poskta.
(bing-01)
