
Parapat, hariandialog.Co.id. Bukan hanya pengusaha penginapan dan
restaurant yang menjadi kena efek banjir bandang dan tanah longsor,
Sumatera Barat, Sumatera Utara maupun Aceh tapi tukang parkirpun ikut
menderita.
Salah seorang tukang parkir di depan Bank BRI, Parapat,
Sumatera Utara, dipanggil si Abang itu, mengeluh dan menjerit karena
pendapatannya sangat tidak realistis. “Coba sehari hanya dapat membawa
pulang Rp.30 ribu. Padahal, sudah mendekati hari Natal, kendaraan yang
berhenti parkir untuk makan minum, sangat minim,” ceritanya.
Menurut pria yang tamatan Sekolah Dasar Itu, minimnya
kendaraan yang parkir karena lewat juga bisa dihitung sejak pagi hari.
“Bagaimana mau parkir yang lewat saja minim sekali. Sepilah. Masih
lumayan kita tukang parkir tanpa modal sedangkan para pedagang harus
mengeluarkan modal berdagang,” ungkap si Abang yang mengaku
bermodalkan seragam dan pruit.
Untuk itu, bukan hanya dirinya sebagai tukang parkir yang
merasakan dampak dari banjir tapi juga pengusaha peningapan atau hotel
maupun restaurant atau warung makan. “Semuanya terkena imbasnya. Sejak
ada berita di televisi banjir bandang dan tanah longsor, langsung
berdampak. Saya hanya bisa berdoa sementara untuk membantu baik
materil tidak mampu, hanya bisa mengirimkan doa,” ungkap ayah dari 3
anak.
Semua warga tempat rekreasi Danau Toba meminta dalam doa
agar tidak ada lagi bencana banjir maupun tanah longsor. “Coba tahun
lalu saat seperti ini kita sudah mengantongi uang dari pemberian
mereka yang parkir cukup banyak dan gembira merayakan Hari Natal.
Sekarang, benar-benar minus dan harus pinjam uang kepada tetangga
untuk bisa beli dagang persiapan untuk Natal,” terang si Abang.
(alfi-01)
