Jakarta, hariandialog.co.id – Lanjutan demo mahasiswa kritik tunjangan DPR dilanjutkan setelah demo aksi buruh membubarkan diri yang sejak pagi sampai siang didepan gedung DPR RI Senayan Jakarta, Kamis (28/08).
Sebelum para mahasiswa datang, sejumlah massa buruh sudah lebih dulu melakukan demonstrasi di depan gedung DPR RI. Massa buruh menyelesaikan aksinya pada pukul 13.00 WIB.
Dalam aksinya, massa buruh membawa sejumlah tuntutan yang ditunjukkan kepada anggota parlemen. Sejumlah tuntutan yang disuarakan buruh sebagai berikut:
1. Hapus Outsourcing dan Tolak Upah Murah
2. Stop PHK : Bentuk Satgas PHK
3. Reformasi Pajak Perburuhan : Naikkan PTKP menjadi Rp. 7.500.000 per bulan, Hapus Pajak Pesangon, Hapus Pajak THR, Hapus Pajak JHT, Hapus diskriminasi Pajak Perempuan Menikah.
4. Sahkan Rancangan Undang-undang Ketenagakerjaan tanpa Omnibus Law
5. Sahkan RUU Perampasan Aset : Berantas Korupsi
6. Revisi RUU Pemilu : Redesain Sistem Pemilu 2029.

Para demonstran mahasiswa berunjuk rasa menentang fasilitas dan tunjangan mewah yang diberikan anggota DPR.
Berdasar pantuan di lapangan, pada pukul 15.17 WIB terlihat gelombang massa aksi berdatangan. Massa mahasiswa memenuhi dua titik konsentrasi aksi. Mereka berkumpul di depan gerbang utama dan gerbang belakang atau gerbang Pancasila. Aksi mahasiswa ini membuat Tol Dalam Kota arah Slipi dan Cawang ditutup. Kendaraan dialihkan dan diputar ke arah Semanggi oleh polisi.
Situasi sempat padat akibat arus kendaraan tertahan. Namun aparat keamanan segera melakukan rekayasa lalu lintas.
Hujan deras mengguyur kawasan Senayan saat aksi berlangsung. Meski begitu, ratusan mahasiswa tetap bertahan di depan Gedung DPR.
Massa mahasiswa terus berdatangan menjelang sore hari. Mereka menggantikan aksi buruh yang bubar sekitar pukul 14.00 WIB.
Mereka berupaya merangsek ke barisan aparat kepolisian di sebelah kiri gerbang dan berusaha menerobos gerbang DPR. Saat itulah petugas kepolisian yang berjaga langsung menembakkan air untuk mengurai massa.
Mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa setelah demonstrasi buruh yang digelar di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/08).
Merespon halauan polisi, massa aksi kemudian membalas dengan melempari petugas dengan benda keras.
Situasi memanas saat aparat kepolisian berupaya memukul mundur para demonstran. Tak lama kemudian, aparat melepaskan meriam air (water canon) dari dalam Gedung DPR membuat massa aksi berhamburan menyeberang jalan tol.
Pada pukul 15.35 WIB, massa mundur dari depan Gedung DPR. Polisi kemudian membubarkan masa dengan membuat barikade dan mendorong mereka untuk menjauhi gedung DPR.
Mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa setelah demonstrasi buruh yang digelar di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/08).
Petugas keamanan terus memukul mundur massa pengunjuk rasa dari Gedung DPR hingga ke kolong jalan layang Pejompongan, Slipi, dekat Stasiun Palmerah, sehingga massa menjadi terpecah.
Hingga pukul 17.00 WIB, kericuhan masih terjadi di sekitar Stasiun Palmerah.
Sebagian dari mereka membalas tindakan aparat kepolisian dengan melempar kembang api dan batu atau benda keras. Sebagian dari mereka berpakaian bebas, sementara beberapa di antaranya mengenakan seragam sekolah.
Penutupan gerbang DPR memicu kekecewaan mahasiswa. Mereka merasa aspirasi yang dibawa justru diabaikan.
Gelombang aksi di DPR sudah berlangsung sejak beberapa hari terakhir. Mahasiswa melanjutkan unjuk rasa setelah buruh dan pelajar sebelumnya menggelar aksi.
Dua hari sebelumnya, aksi pelajar di lokasi sempat berujung ricuh. Aparat menangkap lebih dari 50 peserta demonstrasi. Kericuhan itu membuat ruas jalan sekitar DPR lumpuh. Bahkan, transportasi umum terpaksa ditutup sementara waktu.
Untuk mengantisipasi kericuhan hari ini, polisi sudah menyiapkan langkah pencegahan. Rekayasa lalu lintas diberlakukan di sejumlah ruas jalan sekitar Senayan.
(ary)
