
Medan, harian dialog.Co.Id I Di tengah gejolak perekonomian global selama tahun 2024, Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat sinergi bauran kebijakan yang mendukung program Asta Cita guna mengakselerasi transformasi ekonomi nasional menuju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2024 adalah suatu komitmen Bank Indonesia yakni Transparansi Publik sekaligus memenuhi amanat Undang – Undang Bank Indonesia pasal 58. Dan tidak ada Negara yang bisa maju bila tidak Stabilitas baik itu di bidang Politik, Hukum, Perekonomian dan Keuangan.
Hal tersebut di sampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam acara Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2024 rabu (22/1/2024 di Jakarta.
Gubernur Bank Indinesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa Bank Indonesia menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,00%, dan menurunkan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.
Arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas dalam rangka memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tersebut didukung dengan langkah-langkah kebijakan yakni Penguatan strategi operasi moneter pro-market untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas), serta mendorong aliran masuk modal asing, dengan:
Mengoptimalkan SRBI, SVBI, dan SUVBI sebagai instrumen moneter pro-market; menjaga struktur suku bunga instrumen moneter untuk tetap menarik aliran masuk portofolio asing ke aset keuangan domestik, memperkuat strategi transaksi term-repo dan swap valas dan memperkuat peran Primary Dealer (PD) untuk meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan transaksi repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar;
Penguatan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah yang sesuai dengan fundamental melalui intervensi di pasar valas pada transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Penguatan publikasi asesmen transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan pendalaman pada suku bunga kredit berdasarkan sektor prioritas yang menjadi cakupan KLM (Lampiran),Penguatan akseptasi pembayaran digital melalui optimalisasi pemanfaatan fitur BI-FAST Fase I Tahap 2 yang mencakup layanan transfer secara kolektif (bulk transfer), pembayaran atas dasar permintaan (request for payment), dan transfer debit secara langsung (direct debit); dan Penguatan implementasi inisiatif elektronifikasi untuk mendukung program-program Pemerintah melalui digitalisasi program kesejahteraan sosial dan elektronifikasi sektor transportasi.
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan program-program dalam Asta Cita.
Koordinasi kebijakan moneter dan fiskal diperkuat dalam pembelian SBN dari pasar sekunder oleh BI melalui mekanisme pertukaran SBN secara bilateral (bilateral buyback/debt switching).
Dukungan Bank Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan melalui koordinasi dengan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam swasembada pangan, antara lain melalui program GNPIP di berbagai daerah dalam TPIP dan TPID.
Dukungan BI dalam pembiayaan ekonomi melalui KLM untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan kepada sektor-sektor prioritas, termasuk pembiayaan inklusi dan hijau.
Dukungan BI dalam akselerasi transformasi digital Pemerintah, antara lain melalui koordinasi TP2DD dalam digitalisasi program kesejahteraan sosial, elektronifikasi transaksi keuangan Pemerintah Daerah, dan elektronifikasi sektor transportasi.(silalahi)
