H Satono, Bupati Sambas terpilih. (Foto: Istimewa)
Jakarta, hariandialog.co.id – Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang luas wilayahnya mencapai 6.395,70 kilometer persegi atau 639.570 hektare (4,36% dari luas wilayah Propinsi Kalbar), dan kabupaten dengan penduduk terbesar kedua di Kalbar, serta terletak pada bagian pantai barat paling utara yang berbatasan dengan Malaysia Timur (Sarawak) dan Laut Natuna, memiliki potensi ekonomi yang bisa dikembangkan, terutama dari sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.
Haji Satono, sebagai Bupati Sambas terpilih yang akan dilantik pada 14 Juni 2021, merasa berkewajiban untuk merealisasikan janji politiknya demi memperbaiki perekonomian di Sambas, sehingga kesejahteraan masyarakat di daerah ini menjadi meningkat. Salah satunya dengan melakukan pengembangan tiga sektor potensial tersebut.
Mengapa tiga sektor tersebut? “Karena secara geografis, sumber daya alam dan budaya, Kabupaten Sambas memiliki keunggulan komparatif untuk dikelola dan diolah secara kompetitif,” ucap Bupati Sambas H Satono dalam rilisnya, Rabu (26/5/2021).
Di subsektor pertanian, kata Satono, Sambas memiliki banyak komoditas hortikultura yang selama ini sangat produktif, misalnya jeruk siam yang produksinya di atas 1,2 juta ton per tahun. “Komoditas hortikultura lain yang potensinya lebih besar dari produksinya selama ini seperti pisang, rambutan, durian, dan lain-lain,” jelasnya.
Sedangkan di subsektor peternakan, kata Satono, Sambas memiliki potensi dalam peternakan sapi dan ayam serta itik.
“Sektor perikanan baik laut maupun budidaya di Sambas jelas memiliki potensi yang besar dengan panjang garis pantai 198,76 kilometer, dan kemampuan menghasilkan ikan setiap tahun di atas 20.000 ton. Begitu juga pariwisata yang beberapa tahun digalakkan oleh pemerintah pusat sebagai sumber daya ekonomi yang bisa diperbarui, juga akan menjadi perhatian utama dalam pembangunan ekonomi. Pariwisata penting karena akan menumbuhkan kegiatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan strategi kami adalah menarik wisatawan negara tetangga yang secara geografis lebih dekat dengan Sambas selain juga menarik wisatawan dari daerah lain di Indonesia,” paparnya.
“Tantangan kami adalah bagaimana berbagai sumber daya alam tersebut bisa dikembangkan untuk meningkatkan nilai ekonomi dengan mengembangkan hilirisasi dan membangun sektor pengolahannya. Selama ini banyak hasil hortikultura melimpah ruah di musim panen, namun masyarakat kurang mendapatkan manfaat karena harganya jatuh.
Untuk membangun hilirisasi dibutuhkan sarana dan prasarana yang tentunya peran pemerintah daerah maupun pusat untuk menstimulasi pembangunan ekonomi,” lanjutnya.
Satono memahami, pihaknya tidak bisa memajukan daerah dengan menggantungkan dana transfer daerah, termasuk pendapatan asli daerah (PAD) yang minim sehingga pihaknya membutuhkan investor untuk berperan dalam mengelola berbagai sumber daya alam yang ada di Sambas.
“Untuk mewujudkan cita-cita dalam menyejahterakan masyarakat Sambas, kami tentunya akan memperbaiki kualitas birokrasi agar menjadi lebih efektif dan memfasilitasi berbagai kepentingan masyarakat maupun investor yang ingin berperan dalam pembangunan ekonomi di Sambas. Ibaratnya, kami siapkan karpet merah untuk kehadiran investor,” tandasnya. (tim)
