Jakarta, hariandialog.co.id. — Dalam sepekan terakhir, dugaan
pelecehan seksual di lingkungan federasi panjat tebing Indonesia
(FPTI) menyeruak. Bagiaman duduk persoalannya?
Awalnya, berawal dari laporan delapan atlet FPTI. Delapan
atlet tersebut, lima putra dan tiga putri, mengaku mendapatkan
perilaku kekerasan dan pelecehan seksual dari pelatih.
Pelatih yang dimaksud adalah Hendra Basir. Ia adalah pelatih
kepala tim nasional FPTI. Hendra merupakan pelatih yang mendampingi
Veddriq Leonardo meraih emas Olimpiade 2024.
Komisi X DPR Desak Pelaku Pelecehan Atlet Panjat Tebing
Disanksi Berat. Menyikapi laporan tersebut, FPTI menghentikan
sementara Hendra sebagai pelatih kepala. Surat keputusan pun dibuat
dan dilayangkan ke Hendra untuk proses investigasi.
Untuk melakukan investigas, FPTI membentuk tim pencari fakta.
Sekretaris Umum FPTI Wahyu Pristiawan menyebut Hendra dinonaktifkan
selama proses pencarian fakta. “Jadi, sesuai surat keputusan
organisasi, Hendra Basir diberhentikan sementara sampai dengan ada
keputusan dari TPF [tim pencari fakta] yang telah dibentuk,” kata
Wahyu, Selasa (24/2).
Sehari setelahnya, Rabu (25/2), Hendra membuat pernyataan
klarifikasi. Hendra membantah melakukan kekerasan dan pelecehan
seksual ke sejumlah atlet panjat tebing, seperti dituduhkan. “Pada
intinya, kalau dugaan kekerasan dan pelecehan, saya tidak tahu
konteksnya seperti apa, karena sampai detik ini belum ada klarifikasi
dari federasi,” kata Hendra kepada CNN Indonesia.
“Yang membuat drop ini kan, tindakan pelecehan seksual. Itu
yang saya sampai saat ini tidak habis pikir. Tindakan ini
di-framing-nya seakan-akan ada ajakan hal-hal aneh atau mesum. Itu
fitnah.”
Hanya saja Hendra membenarkan pernah memeluk atlet putri. Itu
dilakukan pada momentum tertentu. Kalau soal kekerasan, ia menyebut
metode latihannya memang keras. “Jadi yang saya lakukan sifatnya
situasional di latihan dan kompetisi. Contoh, performanya tidak tampil
dan atlet kecewa. Atlet saya marahi, biasanya atlet itu nangis.”
“Di situ saya peluk dan cium kening serta ubun-ubun. Itu
semata-mata untuk penguatan ke atlet dan hal serupa saya lakukan ke
anak setelah salat dan antar sekolah,” ujar Hendra menjelaskan.
Mengenai persoalan ini, Ketua Umum FPTI Yenny Wahid menegaskan
komitmen organisasi tidak memberi toleransi soal pelecehan dan
kekerasan kepada atlet. “Saya selaku Ketua Umum PP FPTI telah menerima
laporan dugaan pelanggaran etik dan langsung bergerak cepat untuk
melindungi para atlet,” kata Yenny dalam keterangan tertulis, Jumat,
27-02-2026
“Saya berkomitmen untuk melindungi semua korban serta menegakkan
prinsip zero tolerance terhadap tindakan pelecehan seksual maupun
kekerasan fisik,” ujarnya menegaskan.
Perihal ini juga menjadi perhatian Menpora Erick Thohir dan DPR
RI. Dua lembaga negara ini sama-sama mendukung pengusutan tuntas dan
pemberian sanksi maksimal ke pelaku.
Hingga Minggu (1/3), belum ada penjelasan dari FPTI soal
perkembangan kasus ini. Tim pencari fakta FPTI juga belum membeberkan
fakta-fakta terhadapan dugaan kepada Hendra, tulis cnni. (ayusa-01)
