Jakarta, hariandialog.co.id.- “Maaf berapa harga telor ayam
negeri ini sekilo,” tanya pria salah seorang pria berpakaian rapi dan
baju dalamnya di lapisi rompi bertuliskan Pantau Indonesia dan ada
tulisan Kementerian Perdagangan kepada salah seorang pedagang telor di
dalam pasar Pasar Minggu, Jakarta Selatan .
“Biasa Pak, harganya per kilo Rp.32 ribu,” jawab si
pedagang kepada rombongan pria yang berhenti sebentar dan melanjutkan
Langkah kakiknya agak sedikit kencang atau cepat.
Padahal, harga telor yang saat itu, wartawan membeli telor
ayam negeri bersama seorang ibu pedagang nasi goreng malam oleh di
pria pedagang telor itu, per kilogram dihargai Rp.34.000.-
“Waduh berani juga kamu membohongi pria yang berpakaian
rapi dan lengkap. Kalau tidak salah mereka itu dari unsur pemerintah
pusat bukan dari wilayah Jakarta Selatan,” kata si Ibu, asal Jawa
Tengah.
Si Pedagang yang mengaku asal dari Kudus, Jawa Tengah,
mengaku membohongi mereka itu, sah-sah saja. Pasalnya, kita ini yang
mengetahui harga beli telor per kilogram dari agen. Belum lagi
kebutuhan lain seperti plastic yang naik hamper seratus persen. “Kan
lagi pula mereka tidak belanja. Jadi hanya tanya tanya saja,” jawab si
pedagang telor itu.
Sementara itu seorang Wanita paruh baya yang berjualan di
los belakang terminal Pasar Pasar Minggu, menjawab pertanyaan harga
cabe rawit merah alias cabe cablai diakui Rp.80 ribu per kilogram.
Padahal, di jual kepada pembeli Rp.100 ribu.”Kita beli saja dari Pasar
Induk sudah Rp.80 ribu ditambah ongkos, parkir, angkut dan uang ini
itu, kita paling kebagian per kilogram sepuluh ribu. Jadi logis kalau
kita jual serratus ribu,” akunya dengan terus terang.
Memang terlihat ada enam orang rombongan Pantau Indonesia
mengitari terus pasar Pasar Minggu. “Kami pagi ini terlebih dahulu
turun, sebelum Pak Menteri turun ke dalam pasar blusukan. Jadi
dijadwalkan Pak Menteri Perdagangan pagi ini ke sini guna mengecek
harga-harga sembako pasca lebaran,” kata salah seorang pria dari
rombongan Pantau Indonesia. (tob)
