Jakarta, hariandialog.co.id -Varian Omicron mendongkrak penambahan kasus harian positif COVID-19 di
Indonesia. Varian yang tiga kali lipat lebih menular daripada Delta
ini berpotensi memicu gelombang ketiga pandemi, yang diprediksi
terjadi bulan depan.
Masuknya varian Omicron ke Indonesia membuat aktivitas
tenaga kesehatan di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet, Kemayoran,
Jakarta, kembali meningkat. Tingkat keterisian ranjang medis menanjak
signifikan. Pada Kamis, 13 Januari 2021, sebanyak 2.220 ranjang telah
terisi atau 62,31 persen dari total ketersediaan. Melesat nyaris 20
kali lipat dibandingkan dengan titik terendah keterisian ranjang Wisma
Atlet pada 1 Desember 2021, yang hanya 115 ranjang.
Koordinator Humas RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Mintoro
Sumego mengatakan 333 pasien yang masih dan sempat dirawat di Wisma
Atlet teridentifikasi positif Omicron. Sekitar 125 orang masih
dirawat, sedangkan 208 pasien lainnya sudah dinyatakan sembuh.
“Sebagian besar (pasien Omicron) itu yang perjalanan luar negeri.
Kalau non-pelaku perjalanan luar negeri itu ada 33 totalnya. Yang saat
ini dirawat ada 28,” ungkap Mintoro kepada reporter detikX, Kamis, 13
Januari 2022.
Berdasarkan data Global Initiative on Sharing All Influenza Data
(GISAID), bank data acuan genom SARS-CoV-2, per kemarin, terdapat 660
kasus Omicron di Indonesia. Varian Omicron telah mendominasi atau
menyalip varian Delta sejak 27 Desember 2021. Sejauh ini, varian Delta
hanya terdapat 528 kasus, terhitung sejak Omicron pertama kali
ditemukan pada 8 Desember 2021.
Tapi, kalau kita lengah di situ, tentunya akan jadi masalah. Karena
kita kemudian betul-betul dalam posisi yang kecolongan. Jadi saya
minta ini tidak ada lagi, tidak boleh terjadi lagi. Tolong kerja
samanya yang baik.”
Jika dianalisis, sejak varian Omicron menyalip dominasi
Delta, kasus positif COVID-19 di Indonesia perlahan meningkat.
Puncaknya, pada 15 Januari 2022, terdapat penambahan 1.054 kasus baru.
Padahal kasus harian COVID-19 di Indonesia sejak 14 Oktober 2021 atau
tiga bulan terakhir tak pernah melampaui angkat tersebut. Data ini
mengacu pada penambahan kasus harian yang dirilis Satgas COVID-19
Indonesia.
Berdasarkan data yang didapatkan detikX, kasus pertama
Omicron terdeteksi menjangkiti perempuan berusia 21 tahun berinisial
TM. Dia merupakan pelaku perjalanan dari Nigeria. Sesampai di
Indonesia, ia dirawat di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet sejak 27
November hingga 8 Desember 2021. Ia sudah diinjeksi dua dosis vaksin
Sinovac.
Di sisi lain, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan anak
buahnya mengejar pelaku joki karantina yang disinyalir sebagai musabab
Indonesia kebobolan virus SARS-Cov2 jenis baru ini. Pengawasan
terhadap pelaku perjalanan luar negeri yang tengah melakukan karantina
pun diperketat agar kasus serupa tidak terulang. “Tapi, kalau kita
lengah di situ, tentunya akan jadi masalah. Karena kita kemudian
betul-betul dalam posisi yang kecolongan. Jadi saya minta ini tidak
ada lagi, tidak boleh terjadi lagi. Tolong kerja samanya yang baik,”
jelas Sigit di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis, 6
Januari 2022.
Meski begitu, bagi Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan
Masyarakat Hermawan Saputra, langkah yang diambil pemerintah ini
terlambat. Sebab, saat ini sudah terjadi beberapa kasus positif
Omicron yang disebabkan oleh transmisi lokal. Penularan lokal ini,
menurut Hermawan, bisa menjadi pemicu terjadinya gelombang ketiga.
Apalagi tingkat penularan Omicron lebih cepat dibandingkan Delta.
“Kemungkinan Februari (2022) itu kasusnya akan tinggi sekali,” ungkap
Hermawan kepada reporter detikX melalui sambungan telepon akhir pekan
lalu. (bing).
