Jakarta, hariandialog.co.id – Beberapa hari belakangan ini terjadi kenaikan harga yang cukup “berarti” atas sejumlah kebutuhan pokok di pasaran, sehingga membuat ibu rumah tangga selaku konsumen mengeluhkannya. Dan keluhan yang sama juga diutarakan sejumlah warung nasi yang memang sangat membutuhkan kebutuhan untuk dagang.
Maklum para ibu rumah tangga yang berbelanja setiap hari buat kebutuhan keluarga. Sehingga para Ibulah yang merasakan dampak dari kenaikan kebutuhan rumah tangga. “Semua-semua naik sementara uang belanja bulanan sudah di flot besarannya sesuai dengan pendapatan suami,” jelas Ika warga Jati Padang, Pasar Minggu.
Harga kebutuhan pokok yang naik ialah hampir semua jenis sayur mayuran dengan variasi kenaikan antara Rp 1.000 hingga Rp.1.500 dari harga sebelumnya dengan ukuran dan timbangan yang sama. Sementara bawang putih naik hingga perkilonya Rp 80 ribu dari sebelumnya hanya Rp 30 ribu, bawang merah saat ini Rp 52 ribu dari sebelumnya hanya Rp.30 ribu, telor ayam perkilo sebelumnya Rp 26 ribu menjadi Rp 32ribu bahkan ada pedagang yang jual Rp 34 ribu, tomat dari Rp 8 ribu menjadi Rp 10 ribu, tepung terigu mengalami kenaikan Rp 1.000 per kilo.
Untuk daging sapi perkilonya mengalami kenaikan Rp 15.000,- sebelumnya Rp.120 ribu perkili kini menjadi Rp.135 ribu. Ayam kampung per ekornya dengan ukuran sedang yang sama sebulumnya Rp 70 ribu menjadi Rp 80 ribu, Gas yang harus buat masak 12 Kg menjadi Rp 235 ribu dari harga sebelumnya Rp 220 ribu, dan beras mengalami kenaikan Rp 15.000 per karung seperti pandan wangi sebelumnya Rp.125 ribu sekarang Rp.140 ribu.
Ny.Kaini warga Citayem, Depok, Jawa Barat, kepada Dialog, Rabu (31/5/2023) mengeluhkan atas terjadinya kenaikan harga-harga sejumlah kebutuhan pokok tersebut. Ibu dua anak ini yang suaminya berpenghasilan pas-pasan, terpaksa harus mengurangi penggunaan bawang merah, bawang putih, cabe dan tomat sebagai bumbu masakan lauk yang akan dimakan.
“Kenaikan harga harga ini sepertinya ada kaitannya dengan pegawai negeri yang mendapatkan tambahan gaji ke 13. Kan suami kita ini pegawai swasta murni yang penghasilannya pas pasan. Jadi para pegawai negeri akan memperoleh gaji ke – 13, para pedagang melalui para distributor menaikkan harga bahan pokok. Saya tidak percaya kenaikan dari para petani,” terang Kiani yang mengaku suaminya bekerja di suatu percetakan di Jakarta.
Keluhan yang sama datang dari Ny Susiwati warga RT 003/008 Kramatjati, Jakarta Timur juga kesal terhadap terjadinya kenaikan sejumlah bahan pokok itu. Susiwati berharap agar pemerintah jangan hanya ‘diam’ tanpa bersikap untuk mengantisipasi kenaikan harga-harga. “Kasihan kita masyarakat miskin ini yang sudah berpenghasilan pas-pasan, eh, harus lagi mengeluarkan biaya lebih untuk tambahan agar bisa membeli kebutuhan pokok. Jika kenaikan harga kebutuhan tersebut tidak dikendalikan, maka makin banyak warga berpenghasilan rendah kian miskin dan juga terpaksa harus membatasi makan,” tukas Susiwati seraya menggelengkan kepala pertanda bingung atas kenaikan harga bahan pokok tersebut.
Sementara Ny Nita H. warga Cipinang Jakarta Timur, justru mempertanyakan kemampuan dan kesanggupan pemerintah bak itu pusat maupun daerah untuk menurunkan harga- kebutubahan pokok yang mengalami kenaikan. “Kita ibu rumah tangga ini dibuat pusing jika terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok, terlebih kenaikan harga telor yang meroket. Padahal jika keadaan mendesak, saat anak hendak berangkat sekolah pagi, kita menyajikan sarapan dengan telor, dan juga membawa makanan ke sekolah dengan telor. Eh, nyatanya telor naiknya tidak kepalang mahal, terpaksa bingung menyajikan sarapan pagi kepada anak yang mau sekolah. Pemerintah lihatlah keluhan para ibu rumah tangga ini,” kata Ny Nita H.
Dilain pihak Aris pemilik warteg “Bahari” yang membuka usaha di Jalan Raya Kalibata, Jakarta Selatan, kepada Dialog, Selasa (30/5/2023) mengatakan, kebingungannya atas kenaikan bahan pokok, seperti sayur mayur, telor, bawang putih dan merah, beras yang memang dibutuhkan sebagai bahan pokok yang dikelolahnya untuk didagangkan. “Ya pusing, ya sangat pusing atas kenaikan harga tersebut. Kan kalau harga nasi beserta lauk pauk kita naikan, pasti dikeluhkan atau dikomplain pelanggan. Jika tidak dinaikkan, ya bisa tidak ada untung. Mau tak mau harus kita sikapi dengan mengirit atau memperkecil ukuran bumbu masak. Pokoknya pintar-pintar kita-lah agar bisa bertahan dagang,” tukas Aris.
Memang sejumlah kalangan juga mengeluhkan terjadinya kenaikan harga kebutuhan pokok akhir-akhir ini. Masalahnya para ibu rumah tangga akan memberitahukan kenaikan itu kepada suaminya, agar suami bisa mencari uang tambahan untuk mengganti biaya yang digunakan membayar kenaikan harga-harga sejumlah bahan pokok yang sangat dibutuhkan setiap harinya itu. Jika memang suami yang sudah bergaji pas-pasan per bulannya, ya mau cari uang tambahan dari mana?. Jika ada objekan di luar kerja, ya masih tertolong. Namun jika tidak ada, maka suami sebagai kepala rumah tangga akan dibuat pusing juga.
“Saya sudah bertekad akan mendaftarkan diri untuk menjadi ojek online guna mencari tambahan. Pulang kerja capek harus dilakoni menjadi ojol guna mencari tambahan. Yah, dapat tambahan 50 ribu lumayan buat istri agar dapur bisa terus mengepul,” ujar Lestiyono.
Untuk itu pemerintah harus turun tangan segera menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok yang sudah terlanjur naik tersebut. (Het)
