Jakarta, hariandialog.co.id – Harga-harga sejumlah bahan kebutuhan pokok saat ini kembali mengalami kenaikan cukup berarti hingga sangat dikeluhkan para ibu rumah tangga, dan pedagang makanan/minuman.
Perlu diketahui beberapa hari pada saat menjelang pelaksanaan Pilpres 14 Februari 2024, juga sudah terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok terutama harga beras, dan kelangkaan kelangkaan beras. Kemudian setelah penyelenggaraan Pilpres tersebut, dan setelah digelarnya operasi pasar di mana-mana, kemudian harga-harga kembali normal.
Namun saat ini, atau setelah hasil pemenang Pilpres ditentukan yaitu Pasangan Calon (Paslon) nomor urut 2 yaitu Prabowo Subianto berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka yang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden untuk periode 2024-2029, tiba-tiba terjadi kenaikan harga-harga bahan kebutuhan pokok tanpa diketahui oleh masyarakat umum apa penyebabnya. Yang pasti kenaikan harga dimaksud jadi bahan pembicaraan umum dan membuat para ibu rumah tangga, dan pedagang makanan/minuman pusing.
Dari hasil pantauan Dialog di sejumlah pasar tradisional maupun minimarket, harga yang mengalami kenaikan, seperti Bawang Merah yang cukup meroket menjadi Rp 50 ribu perkilo dari harga sebelumnya Rp 30 ribu. Selain itu harga Cabe dari Rp 45 ribu menjadi Rp 70 ribu, Minyak goreng naik Rp 100 ribu perliter dari harga sebelumnya Rp 15.000,-. Sedangkan harga beras mengalami kenaikan antara Rp 1500 hingga Rp 2000 perliternya. Juga harga sayur mayur mengalami kenaikan antara Rp 1500 hingga Rp 2000 perkilonya.
Disamping harga-harga diatas, harga bahan minuman juga mengalami kenaikan seperti harga Kopi, Teh Tarik, Ice Coffe, dan Goodday. Selain itu harga bahan minuman sasetan juga mengalami kenaikan antara Rp 1000 higga Rp 3000 persaset.
Terkait dengan terjadinya kenaikan harga-harga tersebut, sejumlah sumber yang dihimpun Dialog, mengatakan atas keluhan dan kepusingan mereka dalam menghadapi dan mengantisipasi keuangan guna bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Seperti seorang pedagang kaki lima di Kalibata City bernama Fahrul Gendut mengatakan, kebingungan dan kepusingannya atas terjadinya kenaikan harga bahan pokok itu. “Kita dibuat pusing, kok, harga-harga selalu naik, sementara pendapatan dari penjualan pas-pasan. Jika harga naik maka kita dibuat bingung dan berpikir untuk menaikan makanan dan minuman yang kita dagangkan,” kata Fahrul.
Sementara seorang ibu rumah tangga bernama Susiati yang berdomisili di Kelurahan Kramat Jati, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur kepada Dialog, Selasa (29/4/24) mengatakan, kok harga-harga naik kembali. Apakah tidak ada pejabat negara ini yang mau memikirkan derita kita (Masyarakat-red) yang harus dibuat pusing untuk mencari solusi agar dengan keuangan yang pas-pasan bisa memenuhi kebutuhan keluarga sehari-harinya.
“Ya mbok mereka para pejabat itu mikir atas derita yang dialami masyarakat sehingga mereka turun tangan dong untuk menstabilkan harga-harga. Tanpa kenaikan harga-harga saja sudah bingung mengatur belanja keluarga karena pendapatan pas-pasan, apalagi dengan kenaikan harga saat ini menjadikan makin pusing dan bingung,”kata Susiati dari tiga anak ini.
Apa yang dialami dan dikeluhkan Fahrul Gendut dan Ibu Susiati tersebut juga sebagai ungkapan keluhan dan kepusingan masyarakat khususnya kaum ibu rumah tangga dan pedagang makanan/minuman lainnya yang juga dibuat kelimpungan atas kenaikan harga-harga bahan pokok tersebut. Pada intinya mereka berharap agar pemerintah dan pemangku negeri ini turun tangan dan berkemauan hati untuk menstabilkan harga-harga dimaksud agar kehidupan Masyarakat jangan kian terperosok karena keterbatasan keuangan, dan untuk mencegah terjadinya inflasi. (Het)
