Jakarta, hariandialog.co.id.- “Benar, pagar laut itu
menyusahkan warga sekitar pinggir laut untuk mencari nafkah yang
sehari-harinya mencari ikan. Kita saja yang mau mancing ikut korban
kesusahan untuk menambat perahu untuk turun ke perahu,” kata Imam
kepada Dialog.
Imam, warga Parung, Bogor, sudah janjian dengan
rekan-rekannya berjumlah 12 orang mau mancing ikan di laut di wilayah
Pulau Seribu. “Kita sudah janjian pukul 02.00 sore tepatnya di Pantai
Indah Kapuk 2. Namun, teman-teman yang lebih dahulu sampai menghubungi
krue perahu yang sudah di carter dan mendapat kabar dialihkan ke Teluk
Naga,” kata Imam di dampingi Santoso warga Depok.
Yah, namanya sudah kepalang tanggung sudah dibayar perahu
bersama kebutuhan sudah disiapkan, akhirnya kendaraan di arahkan ke
Teluk Naga. “Kita harus mutar dan memakan waktu ke Teluk naga hingga
satu jam perjalanan. Jadi kita saja yang menggunakan kendaraan sudah
kewalahan. Bagaimana para nelayan yang tidak punya kendaraan harus
sewa atau naik grab,” terang Santoso sangat menyesalkan pagar laut.
Memang, kata Diasan, warga Sawangan yang juga satu
rombongan, dulu ada jalan ke laut melalui lahan warga untuk
menambatkan perahu dan tempat parkir kendaraan roda empat. Namun,
entah kenapa warga sudah menutup akses jalan menuju ke pinggir laut.
“Dipagar menggunakan kayu dan bambu. Pokoknya jalan saja sudah tidak
bisa di lalui apalagi kendaraan,” jelas Diasan.
Diasan menyebutkan sejak ribut-ribut pagar laut, belum
pernah memacing di laut sekitar Pulau Seribu. “Yah, kita mancing di
darat alias di kolam pemancingan. Sudah rutin kalau tidak ada acara
keluarga Sabtu dan Minggu dimanfaatkan mancing ke kolam pemancingan.
Yah, namanya hobbi, kan lagi pula libur kerja,” aku Diasan dan
mengakui masih ada pagar tersisa di luat. (halim-01).
