
BANDUNG BARAT, hariandialog.co.id – Menyambut momentum libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat (KBB) bergerak cepat melakukan langkah antisipatif. Fokus utama kali ini adalah pada pengawasan teknis wahana dan mitigasi bencana guna menjamin keamanan wisatawan di tengah potensi cuaca ekstrem.
Pengawasan Ketat dan Mitigasi Bencana
Kepala Bidang Pariwisata Disparbud KBB, David OOT, menyatakan optimismenya terhadap peningkatan sektor pariwisata dan pendapatan pajak pada periode ini. Meski demikian, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama melalui pembentukan tim pengawasan khusus yang bekerja mulai 19 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.
”H-5 sebelum puncak liburan, kami telah melakukan pengecekan teknis (Ramp Check) ke berbagai destinasi wisata, terutama wahana yang memiliki risiko tinggi. Sesuai Surat Edaran Kementerian Pariwisata, pengelola wajib siap dalam manajemen krisis pariwisata,” ujar David.
Langkah ini diambil menyusul informasi dari BMKG terkait potensi cuaca ekstrem hingga Januari mendatang. Para pelaku usaha pun telah diinstruksikan untuk memperkuat Standard Operating Procedure (SOP) keselamatan dan kesigapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Keamanan Wahana dan Dukungan Infrastruktur
David memastikan bahwa destinasi populer seperti The Great Asia Africa, Floating Market, serta sejumlah wahana terbaru di Lembang terpantau aman untuk dikunjungi. Aksesibilitas menuju kawasan wisata juga semakin membaik berkat peningkatan kualitas jalan provinsi oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).
”Kami melihat adanya peningkatan pergerakan wisatawan sejak H+1 dan H+2 Natal, khususnya di wilayah Lembang. Kami memprediksi target kunjungan tahun ini akan terlampaui,” tambahnya.
Inovasi Wisata Edukasi dan Aturan Study Tour
Menanggapi instruksi Gubernur terkait pembatasan study tour keluar daerah, Disparbud KBB mengambil inisiatif berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan. Strateginya adalah mengoptimalkan potensi wisata lokal yang berbasis edukasi dan ramah anak.
Beberapa paket wisata menarik telah disiapkan, mulai dari pengamatan bintang di Bosscha, wisata gastronomi, hingga konsep ekowisata seperti eco farming di Desa Kertawangi, Cisarua. Untuk menunjang mobilitas, Bus Bandros bantuan Provinsi kini dimaksimalkan rutenya melalui koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk melayani rute Stone Garden hingga Goa Pawon melalui Kota Baru Parahyangan.
Pemerataan Wisata ke Wilayah Selatan
Dalam rencana jangka panjang, Disparbud KBB mulai mengarahkan pengembangan destinasi wisata ke wilayah selatan dan barat (Gunung Halu, Rongga, Cililin, Saguling, dan Cipendeuy). Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah utara (Lembang) yang merupakan daerah resapan air.
”Wilayah Utara harus kita jaga tata ruangnya agar tidak terjadi bencana. Kedepannya, pengembangan akan diarahkan ke Selatan yang lebih dominan pada wisata alam dan adventure (petualangan),” jelas David.
Pemerintah Daerah berkomitmen terus berperan sebagai fasilitator, regulator, dan motivator bagi pelaku usaha, termasuk menjalin kolaborasi dengan pihak seperti Indonesia Power (IP), Perhutani, dan PTPN untuk memajukan desa-desa wisata di Bandung Barat. (NAGON)
