Jakarta, hariandialog.co.id – Maraknya penyelundupan narkoba ke Indonesia dari berbagai negara akibat Indonesia dianggap sebagai pasar potensial lantaran jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa.
Upaya Polri dalam memerangi narkoba yang merupakan perbuatan yang dilarang oleh agama dan meningkatkan kualitas pelayanan serta peningkatan kinerja personel Polri.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadiri pengungkapan kasus penyelundupan narkoba jenis sabu, yang diduga melibatkan jaringan Timur Tengah, dengan berat 1,129 ton, di Mapolda Metro Jaya, Senin (14/06).
Dalam keterangannya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, jika Indonesia menjadi negara konsumen narkoba terbesar. Hal ini dikatakan Sigit usai jajaran Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Pusat membongkar kasus narkoba jaringan Timur Tengah-Afrika sebesar 1,129 ton sabu. “Kita semua tentu perihatin bahwa Indonesia saat ini menjadi negara dengan jumlah konsumen yang sangat besar, terbukti dengan beredarnya narkoba dalam kurun waktu yang tidak lama, namun walaupun bisa kita ungkap,” ujar Kapolri kepada wartawan saat jumpa pers, Senin (14/06).
Kapolri menjelaskan, pengungkapan ini dilaksanakan di empat tempat yang berbeda, yaitu di Gunung Sindur di mana pada saat itu sebesar 393 kilogram.
Kedua di Pasar Modern Bekasi sebesar 511 kilogram. Ketiga di Apartemen Basura Jakarta Timur dan yang keempat di Apartemen Grand Pramuka. Pengungkapan ini kata dia tentunya berkat kerjasama kepolisian yang didukung oleh Ditjen Pas Kemenkumhan.
Kapolri meminta agar anggotanya terus meningkatkan kewaspadaan dan kerjasama kepada seluruh stakeholder yang ada untuk memerangi penyelundupan narkoba serta segera membentuk Kampung Tangguh Narkoba. “Kampung Tangguh itu memiliki daya cegah, daya tangkal dan berani tindak terhadap narkoba” ujarnya.(Riz)
