Jakarta, hariandialog.co.id.- – Di tengah bayang-bayang meningkatnya
risiko ketidakpastian ekonomi global, penguatan sektor domestik
menjadi harga mati untuk menopang kemandirian bangsa.
Merespons tantangan tersebut, Bank Indonesia (BI) secara
resmi meluncurkan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu
untuk Penciptaan Lapangan Kerja dan Ekonomi Kerakyatan di Jakarta.
Langkah strategis ini dirancang untuk mencetak wirausaha baru yang
produktif, inovatif, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan
yang selaras dengan program prioritas nasional dan implementasi Asta
Cita.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa UMKM
merupakan jangkar krusial bagi perekonomian nasional.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM (2024), sektor ini
memberikan kontribusi masif sebesar 60,5 persen terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB), menyerap 90 persen tenaga kerja, dan menyumbang
15 persen dari total pangsa ekspor Indonesia.
“Risiko global menuntut kita untuk membangun kemandirian ekonomi.
Program ini dirancang dari hulu ke hilir untuk menghasilkan dampak
nyata. Kami memilih model bisnis terbaik dari UMKM binaan yang
kesesuaiannya telah teruji di lapangan,” ujar Perry.
Program berskala nasional ini digerakkan secara masif melalui jaringan
46 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di seluruh wilayah tanah air.
BI bersinergi erat dengan Kementerian/Lembaga, pemangku kepentingan
strategis, serta melibatkan lebih dari 3.000 UMKM binaan dan lebih
dari 1.500 pondok pesantren yang telah diberdayakan.
Hadir dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar,
memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi berkelanjutan ini,
khususnya dalam hal pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren,
tulis lombokpst. (udin-01)
