
BATU BARA, hariandilaog.co.id — Angin Selat Malaka jadi saksi. Kamis 4/6/2026, Pantai Jono di Kuala Tanjung berdenyut lebih kencang dari biasanya. Di sana, Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara resmi dilantik lewat prosesi adat yang penuh wibawa. Bukan sekadar acara seremonial, ini ikrar baru: menjaga marwah Melayu agar tak luntur digilas zaman. Ketika modernisasi makin kencang, Batu Bara memilih berpegang pada akarnya.
Sembilan nama besar kini berhimpun. Kedatukan Lima Puluh, Pesisir, Lima Laras, Bogak, Tanjung Kasau, Sipare-pare, Pagurawan, Tanjung Limau Purut, dan Tanah Datar akhirnya punya satu payung adat. Selama puluhan tahun bergerak sendiri, kini mereka duduk satu meja, satu tekad. Majelis Kedatukan lahir sebagai jembatan antara warisan leluhur dengan denyut pembangunan hari ini.
Pemasyuran bergema, tepung tawar ditabur, doa-doa dipanjatkan. Di hadapan urus pemerintah pusat, provinsi dan daerah, para raja dan Sultan se sumatera, dan perwakilan Konsulat Malaysia Mohamad Ridzuan dan Forkopimda, OK Khairul Amri dikukuhkan sebagai Ketua bergelar Dato’ Setiawangsa II.
Amanahnya berat: menjadikan majelis bukan menara gading, tapi rumah besar yang merangkul semua zuriat dan menghidupkan adat dalam keseharian.
Bagi Raisha Ramadhan, Sekretaris Panitia, majelis ini jawaban atas kegelisahan banyak pihak. Budaya bukan sekadar pentas di hari besar, tapi nilai hidup yang diwariskan. Karena itu pelantikan dibalut makan bejambah, seni, dan silaturahmi. Semua jadi pengingat bahwa Melayu Batu Bara punya cara sendiri merayakan persaudaraan: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dalam adat yang sama dijunjung.
Langkah di Pantai Jono kemarin bukan titik akhir, tapi garis start. Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara akan jadi mitra pemerintah merawat identitas, sekaligus motor agar kearifan lokal ikut menentukan arah pembangunan. Di tengah dunia yang serba cepat, Batu Bara menegaskan sikap: maju tak harus tercerabut dari akar. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu jalan pulang ke budayanya.(Khairul Amri)
